BI Tegaskan Fundamental Kuat di Tengah Tekanan Geopolitik, Kebijakan Moneter Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

0
66

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dalam menghadapi tekanan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April ini, Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Keputusan ini konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.

“Ke depan, Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1%,” ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab dengan media,  Perry menekankan fokus kebijakan moneter pada stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.

“Kami tegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia kuat dalam menghadapi dampak dari geopolitik, termasuk perang Timur Tengah,” ujarnya.

“Fundamental ekonomi kita kuat sehingga ketahanan eksternal kita juga tetap kuat,” tambahnya.

Ia menyebut indikator utama seperti inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, stabilitas nilai tukar, serta defisit transaksi berjalan yang terkendali menjadi penopang utama dalam menghadapi gejolak global.

Dari sisi moneter, BI terus mengarahkan kebijakan untuk menjaga stabilitas, khususnya nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta volatilitas aliran modal global.

Perry menjelaskan, BI meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas melalui berbagai instrumen, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun offshore Non-Deliverable Forward (NDF). Langkah ini diperkuat dengan cadangan devisa yang tetap tinggi, mencapai sekitar 148,2 miliar dolar AS, yang dinilai lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas eksternal.

Selain intervensi, BI juga memperkuat daya tarik instrumen moneter melalui penyesuaian struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Perry menyampaikan bahwa dalam satu bulan terakhir Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga SRBI. Menurutnya, kebijakan tersebut berhasil menarik aliran masuk portofolio asing ke instrumen SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Masuknya modal asing tersebut, lanjutnya, turut memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan ketahanan eksternal Indonesia dalam menghadapi tekanan global.

Masih dari sisi kebijakan moneter, Perry menyatakan Bank Indonesia mendorong pertumbuhan uang primer (M0) tetap tinggi pada level dua digit. Pada bulan sebelumnya, pertumbuhan M0 tercatat sekitar 11,8 persen dan ke depan akan dijaga di atas 10 persen, bahkan berpotensi mencapai 12 persen. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan guna mendukung aktivitas ekonomi.

Kebijakan tersebut sejalan dengan stance moneter Bank Indonesia yang mengarah pada ekspansi likuiditas. Secara keseluruhan, bauran kebijakan moneter ini difokuskan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia, dengan tetap bersinergi erat bersama pemerintah.

Selanjutnya, untuk kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran, Perry mengatakan keduanya terus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan bersinergi erat bersama stimulus fiskal yang telah dan akan terus ditempuh pemerintah.

Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui pemberian insentif likuiditas makroprudensial serta pelonggaran kebijakan makroprudensial lainnya guna memperkuat penyaluran kredit dan mendukung aktivitas ekonomi.

Bank Indonesia juga terus memperluas digitalisasi sistem pembayaran untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan digital.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pada pekan depan BI akan meluncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia. Melalui inisiatif ini, sekitar 800 tim talenta digital muda, baik dari kalangan praktisi maupun mahasiswa, akan diseleksi untuk menggagas dan mengembangkan kewirausahaan digital dalam bentuk startup, mencakup sektor jasa keuangan, layanan publik, serta penguatan inklusi ekonomi dan keuangan.

Perry menyampaikan bahwa berbagai langkah kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.

Secara keseluruhan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,7 persen. Inflasi diperkirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen, sementara defisit transaksi berjalan berada pada kisaran 0,5-1,3 persen terhadap PDB.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit diproyeksikan mencapai 8-12 persen. Nilai tukar rupiah juga akan terus dijaga stabil dan dipandang cenderung menguat. Perry menegaskan bahwa saat ini rupiah berada pada level undervalued dibandingkan fundamental ekonominya.

“Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik, serta komitmen bangsa dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics