Stok Minyak Sawit Lebih Tinggi, Simak Produksi, Konsumsi hingga Ekspor

0
46

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut stok minyak sawit pada akhir Maret 2026 lebih besar dibandingkan dengan stok di akhir Februari 2026. Stok di akhir Maret 2026 menjadi 2.568 ribu ton lebih besar dari 2.026 ribu ton pada stok di akhir Februari 2026

Produksi crude palm oil (CPO) bulan Maret 2026 mencapai 4.403 ribu ton, turun 12,22% dari bulan sebelumnya 5.015 ribu ton. Produksi palm kernel oil (PKO) bulan Maret juga turun menjadi 418 ribu ton dari 485 ribu ton di bulan Februari sehingga total produksi CPO dan PKO Maret 2026 mencapai 4.821 ribu ton. Nilai tersebut lebih kecil 12,35% dari bulan sebelumnya 5.500 ribu ton.

Secara tahunan (YoY), produksi CPO dan PKO 2026 naik menjadi 15.558 ribu ton atau 18,44% lebih tinggi dari produksi 2025 sebesar 13.135 ribu ton.

Gapki juga menyampaikan total konsumsi dalam negeri mengalami penurunan 8,25% dari 2.305 ribu ton di bulan Februari menjadi 2.115 ribu ton pada bulan Maret 2026. Penurunan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang turun menjadi 897 ribu ton atau 9,03% dari bulan sebelumnya sebesar 986 ribu ton. Konsumsi biodiesel turun juga turun 7,71% menjadi 1.056 ribu ton dari 1.144 ribu ton pada bulan sebelumnya. Demikian halnya dengan konsumsi oleokimia yang turun 7,43%, menjadi 162 ribu ton dari 175 ribu ton pada bulan sebelumnya.

Baca Juga :   Perekonomian Bergerak Positif, Konsumsi hingga Ekspor Alami Kenaikan di April 2021

Secara YoY sampai dengan Maret, konsumsi 2026 naik menjadi 6.524 ribu ton atau 7,47% lebih tinggi dari konsumsi 2025 sebesar 6.071 ribu ton.

Gapki menyampaikan total ekspor produk sawit pada bulan Maret 2026 turun menjadi 2.168 ribu ton atau turun 34,25% dari ekspor bulan Februari sebesar 3.297 ribu ton. Penurunan ekspor terjadi pada CPO yang menjadi 96 ribu ton dari 395 ribu ton pada bulan sebelumnya atau turun 75,61%. Ekspor olahan minyak inti sawit menjadi 94 ribu ton dari 171 ribu ton atau turun 44,67%, dan pada olahan minyak sawit yang menjadi 1.506 ribu ton dari 2.267 ribu ton atau turun 33,57%. Sedangkan kenaikan ekspor terjadi pada oleokimia yang naik menjadi 468 ribu ton dari 462 ribu ton pada bulan sebelumnya, Ekspor oleokimia naik 1,42%.

Secara YoY sampai dengan Maret, ekspor 2026 naik menjadi 8.546 ribu ton atau 11,91% lebih tinggi dari ekspor 2025 sebesar 7.637 ribu ton.

Menurut negara tujuannya, terjadi penurunan ekspor pada bulan Maret di bandingkan bulan sebelumnya yaitu untuk China yang turun 314 ribu ton, India turun 291 ribu ton, Pakistan turun 113 ribu ton, Bangladesh turun 90 ribu ton, Afrika turun 81 ribu ton, Middle East turun 77 ribu ton, Malaysia turun 71 ribu ton, Amerika Serikat turun 41 ribu ton dan Uni Eropa 27 turun 25 ribu ton. Sedangkan kenaikan ekspor terjadi untuk tujuan Russia naik 24 ribu ton.

Baca Juga :   Soal PKPU, Mayoritas Kreditur Setuju Waktunya Diperpanjang agar Pan Brothers Terhindar dari Potensi PHK Massal

Secara YoY sampai dengan Maret, penurunan ekspor 2026 dari ekspor 2025 terjadi untuk tujuan Pakistan sebesar 118 ribu ton, Amerika Serikat turun 93 ribu ton, Russia turun 28 ribu ton, dan EU-27 turun 13 ribu ton. Sedangkan peningkatan ekspor terjadi untuk tujuan China naik 673 ribu ton, India naik 218 ribu ton, Middle East naik 120 ribu ton, Afrika naik 106 ribu ton, Malaysia naik 38 ribu ton dan Bangladesh naik 7 ribu ton.

Nilai ekspor produk sawit bulan Maret mengalami penurunan dari US$3,69 miliar di bulan Februari menjadi US$2,61 miliar pada Maret atau turun sebesar 29,27%. Secara YoY sampai dengan Maret, nilai ekspor 2026 naik menjadi US$9,66 miliar atau 10,40% lebih tinggi dari tahun 2025 sebesar US$8,75 miliar. Peningkatan nilai ekspor secara tahunan terjadi karena meningkatnya volume ekspor dan juga karena harga rata-rata Januari-Maret 2026 sebesar US$1.356/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-Maret 2025 sebesar US$1.230/ton Cif Roterdam.

Leave a reply

Iconomics