Nagita Slavina: IPO RANS Jadi Bukti Industri Kreatif Layak Berdiri Sejajar dengan Sektor Strategis

RANS menawarkan 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
0
11

Suara Nagita Slavina Mariana Tengker beberapa kali tercekat menahan tangis saat berdiri di podium Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/7). Di hadapan para investor, pelaku pasar modal, mitra bisnis, dan keluarganya, Direktur Utama PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) itu menceritakan perjalanan mendirikan RANS bersama sang suami, selebritas Raffi Farid Ahmad.

Momen tersebut menandai babak baru perjalanan RANS yang resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Namun, bagi Nagita, seremoni itu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menjadi perusahaan publik.

“Hari ini bukan sekadar hari ketika RANS mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia,” katanya dengan suara bergetar.

“Maaf ya, saya agak sedikit terharu,” tuturnya.

Baginya, pencatatan saham RANS menjadi simbol pengakuan bahwa industri kreatif kini mampu berdiri sejajar dengan sektor-sektor ekonomi strategis lainnya.

“Hari ini adalah hari ketika Indonesia menunjukkan bahwa kreativitas dapat berdiri sejajar dengan sektor-sektor ekonomi strategis lainnya. Kreativitas adalah modal, kreativitas adalah aset, dan kreativitas dapat menjadi perusahaan publik yang dipercaya masyarakat Indonesia,” katanya, disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam sambutannya, Nagita mengajak hadirin menengok kembali awal perjalanan RANS yang, menurutnya, dibangun dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah kamera, sebuah keluarga, dan keinginan untuk berbagi cerita.

Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa langkah kecil tersebut pada akhirnya mengantarkan RANS menjadi perusahaan terbuka.

Kenangan masa-masa awal membangun usaha kembali memenuhi ingatannya. Saat itu, tim RANS bahkan belum mencapai sepuluh orang. Ia sendiri harus menawarkan konten kepada berbagai perusahaan agar mau bekerja sama.

Baca Juga :   Mutu Akan IPO dengan Maksimal 30% dari Modal Penuh Perseroan

Nagita kemudian menyebut satu per satu mitra yang telah mendukung perjalanan RANS sejak awal, mulai dari Alfamart, Mayora, hingga para pengiklan, agensi, dan strategic partner.

“Karena itu, hari ini bukan hanya milik saya, Raffi Ahmad, keluarga saya, dan tim saya. Hari ini juga milik semua kreator Indonesia. Milik semua partner yang sudah percaya terhadap industri kreatif.”

Industri Kreatif Bukan Lagi Pelengkap

Nagita menyampaikan pandangannya mengenai masa depan industri kreatif Indonesia. Menurut dia, sektor hiburan tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai industri yang menghasilkan tontonan.

“Industri kreatif tidak lagi berdiri di pinggiran. Kita sekarang berdiri sejajar di barisan terdepan bersama industri strategis lainnya untuk ikut menggerakkan bangsa ini,” ujarnya.

Ia menilai perhatian publik hanyalah titik awal dalam membangun bisnis kreatif. Nilai ekonomi yang sesungguhnya tercipta ketika perhatian tersebut berkembang menjadi intellectual property, kemudian melahirkan produk, pengalaman, komunitas, hingga ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

“Sebuah film bisa menghasilkan dan menghidupkan sektor pariwisata. Sebuah konser mampu menggerakkan transportasi, perhotelan, UMKM hingga ekonomi daerah. Sebuah karakter animasi mampu berkembang menjadi produk, lisensi, permainan hingga destinasi wisata,” ujarnya.

Menurut dia, dunia saat ini telah memasuki era experience economy, ketika masyarakat tidak lagi sekadar membeli barang, tetapi juga pengalaman dan cerita.

“Mereka membeli pengalaman. Mereka membeli cerita. Mereka membeli kenangan yang ingin mereka bawa pulang dan ceritakan kembali.”

IPO Menjadi Titik Awal

Nagita menegaskan bahwa keputusan membawa RANS menjadi perusahaan publik bukan semata-mata untuk memperoleh tambahan modal.

Baca Juga :   Djasa Ubersakti IPO, Perusahaan ke-47 di BEI Tahun 2020

“IPO ini bukan garis akhir perjalanan RANS. IPO ini adalah titik awal, karena setelah menjadi perusahaan publik, tanggung jawab kami justru semakin besar.”

Ia mengatakan, status sebagai perusahaan publik menuntut RANS untuk menerapkan tata kelola yang baik dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan kepada para pemegang saham.

Nagita juga mengungkapkan alasan mengapa RANS memilih melantai di bursa.

“Jawaban saya sederhana, karena mimpi sebesar ini tidak bisa dibangun sendirian.”

Ia berharap pencatatan saham RANS dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri kreatif di Indonesia, terutama generasi muda. Menurutnya, perjalanan RANS membuktikan bahwa kreativitas dapat melahirkan lapangan kerja, membuka peluang ekonomi baru, sekaligus menjadi fondasi perusahaan yang berkelanjutan.

“Bahwa kreativitas bukan hanya mampu menginspirasi, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan, membuka peluang baru, dan menggerakkan perekonomian Indonesia.”

Saat perdagangan dimulai, saham RANS dibuka menguat ke level Rp228 atau melonjak 34,12 persen dibandingkan harga penawaran perdana.

Pemilik Saham: Anak Mantan Presiden hingga Petinggi BUMN

Dalam IPO ini, RANS menawarkan 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Seluruh saham yang ditawarkan merupakan saham baru dengan nilai nominal Rp10 per saham dan harga penawaran Rp170 per saham, sehingga perseroan menghimpun dana sebesar Rp429,25 miliar dari aksi korporasinya.

Meski awalnya dibangun oleh Nagita dan Raffi Ahmad, sebelum melantai di BEI kepemilikan saham RANS telah melibatkan sejumlah investor strategis.

Baca Juga :   Peroleh Pernyataan Efektif dari OJK, Bukalapak Gelar Penawaran Umum Hingga 30 Juli

Berdasarkan prospektus perseroan, sebelum IPO kepemilikan saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk masih terkonsentrasi pada para pendiri, manajemen, dan sejumlah investor strategis.

Raffi Farid Ahmad menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 7,935 miliar saham atau 78,68 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.

Sejumlah nama yang dikenal publik juga tercatat sebagai pemegang saham perseroan. Salah satunya Kaesang Pangarep, putra kedua mantan Presiden Joko Widodo, yang menggenggam 1,14 persen saham RANS sebelum IPO. Setelah penawaran umum perdana, porsi kepemilikan saham Kaesang terdilusi menjadi 0,91 persen.

Selain itu, terdapat Dony Oskaria yang memiliki 3,42 persen saham sebelum IPO dan terdilusi menjadi 2,74 persen setelah IPO.

Dony merupakan paman Nagita Slavina. Ia pernah ditunjuk Presiden Joko Widodo pada 2016 sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden Bidang Ekonomi dan Industri pada Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), sekaligus Ketua Kelompok Kerja Industri Pariwisata. Pada 2021, ia dipercaya memimpin PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney sebagai Direktur Utama hingga 2024. Setelah diangkat sebagai Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), posisinya di InJourney digantikan. Pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Dony kemudian ditunjuk sebagai Direktur Operasional Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics