Mencari Sosok Pengganti Perry Warjiyo: Apa Kriteria Gubernur BI yang Dibutuhkan Saat Ini?

Ekonom menilai yang paling penting bukanlah siapa sosok yang akan menjabat, melainkan apakah Gubernur BI terpilih memiliki kredibilitas serta mampu menjaga independensi bank sentral.
0
19

Sejumlah nama mulai bermunculan sebagai kandidat pengganti Perry Warjiyo untuk menduduki posisi Gubernur Bank Indonesia (BI). Perry diumumkan mengundurkan diri dari jabatan tersebut pada Senin (27/7), setelah sejak 2018 memimpin bank sentral.

Nama-nama yang beredar antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, serta sejumlah tokoh lainnya.

Dari internal BI, muncul nama Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dan Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

Lead Economist Bank Danamon Faiz Irman menilai, yang paling penting bukanlah siapa sosok yang akan menjabat, melainkan apakah Gubernur BI terpilih memiliki kredibilitas serta mampu menjaga independensi bank sentral.

Menurutnya, dari perspektif pasar terdapat empat kriteria utama.

Pertama, memiliki rekam jejak yang kuat dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Kedua, berkomitmen menjalankan mandat BI secara independen dan berbasis data.

Ketiga, memahami kebijakan moneter, pasar keuangan, serta dinamika nilai tukar secara mendalam.

Keempat, mampu membangun koordinasi yang baik dengan pemerintah tanpa mengurangi independensi kebijakan moneter.

“Terkait nama-nama yang beredar, kami tidak pada posisi untuk memberikan preferensi terhadap individu tertentu. Pada akhirnya, pasar akan lebih menilai kredibilitas kandidat, kualitas proses seleksi, serta komitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar rupiah dibandingkan sosoknya semata,” ujar Faiz saat dimintai pandangannya, Kamis (30/7).

Baca Juga :   Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global yang Tinggi, BI Pertahankan BI Rate di Level 5,75%

Sementara itu, pengamat komoditas dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai peluang terbesar untuk menggantikan Perry Warjiyo berada pada Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.

Belajar dari proses pemilihan Ketua Dewan Komisioner OJK pada Maret lalu, Ibrahim menilai pemerintah cenderung memilih figur yang berasal dari lingkungan otoritas keuangan. Karena itu, ia memperkirakan pengganti Perry kemungkinan besar berasal dari internal Bank Indonesia.

“Indikasi bahwa Destry akan menduduki jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia itu sangat kuat karena pemerintah tidak mungkin akan mengambil dari luar lembaga Bank Indonesia,” kata Ibrahim dalam wawancara, Kamis (30/7).

Menurut Ibrahim, Destry memiliki pengalaman yang memadai dan telah dikenal baik oleh pelaku pasar. Selama ini, Destry juga menjadi salah satu pejabat BI yang paling sering menyampaikan pandangan bank sentral kepada publik, khususnya terkait stabilitas rupiah dan kondisi ekonomi. Hal itu, menurutnya, membuat pasar lebih mengenal Destry dibandingkan deputi gubernur lainnya.

Sebaliknya, Ibrahim menilai peluang Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk berpindah ke Bank Indonesia relatif kecil. Menurutnya, Purbaya masih menghadapi tantangan besar dalam membenahi sektor fiskal sehingga kecil kemungkinan dipindahkan ke bank sentral.

Ibrahim juga berpendapat tantangan terbesar saat ini bukan berada di Bank Indonesia, melainkan pada sektor fiskal. Menurutnya, BI selama ini telah mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, hingga penyesuaian suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca Juga :   QRIS Sudah Bisa Dipakai di Jepang, Target Selanjutnya Tiongkok

“Bank Indonesia sudah all out, tetapi rupiah tetap melemah. Permasalahannya bukan semata-mata di Bank Indonesia, melainkan pada persoalan fiskal,” ujarnya.

Ia menambahkan, siapa pun yang nantinya menjabat sebagai Gubernur BI akan tetap menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Karena itu, kebijakan suku bunga diperkirakan masih akan menjadi salah satu instrumen utama apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Selain faktor moneter, Ibrahim menilai persoalan struktural di sektor fiskal menjadi tantangan yang lebih mendasar dan memengaruhi persepsi investor terhadap perekonomian Indonesia. Menurutnya, koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi salah satu kunci dalam menjaga stabilitas rupiah ke depan.

Tantangan dari Eksternal

Sementara kursi Gubernur BI definitif saat ini masih kosong, tantangan yang dihadapi bank sentral kian berat. Tim Ekonomi Bank Danamon dalam kajiannya memperkirakan ruang gerak BI untuk melonggarkan kebijakan moneter semakin terbatas seiring meningkatnya peluang Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan hingga akhir 2026.

Dalam laporan Indonesia Macro Glint edisi 29 Juli 2026, Tim Ekonomi Danamon menilai inflasi Amerika Serikat masih bertahan pada level tinggi sehingga mendorong The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer). Risiko geopolitik yang masih tinggi juga dinilai terus meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan berbagai biaya produksi lainnya, sehingga berpotensi menjaga inflasi tetap persisten.

Menurut Danamon, kondisi tersebut membuat ruang kebijakan moneter Indonesia menjadi semakin terbatas. Suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi diperkirakan akan mempertahankan penguatan dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, sehingga Indonesia perlu menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah guna mempertahankan kepercayaan investor.

Baca Juga :   Lain Bulan Lalu, Lain Sekarang, Bank Indonesia Kerek Suku Bunga Acuan  ke 6%

Laporan tersebut juga menyoroti pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. Menurut Danamon, meskipun pengunduran diri itu menimbulkan ketidakpastian mengenai kepemimpinan BI ke depan, sejauh ini pasar relatif tenang setelah penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Acting Governor), yang dipandang mencerminkan keberlanjutan kebijakan dalam jangka pendek.

“Meski demikian, penunjukan gubernur definitif akan menjadi perhatian utama pasar karena kredibilitas kebijakan dan independensi kelembagaan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor,” tulis Tim Ekonomi Danamon.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Danamon memperkirakan Bank Indonesia akan tetap mempertahankan kebijakan yang berfokus pada stabilitas. Berbagai langkah makroprudensial maupun kebijakan di pasar valuta asing dinilai dapat meningkatkan fungsi pasar dan likuiditas, namun belum dapat sepenuhnya menggantikan peran kebijakan suku bunga apabila tekanan eksternal semakin meningkat. Menurut Danamon, menjaga selisih suku bunga yang menarik terhadap Amerika Serikat tetap menjadi faktor penting untuk menopang stabilitas rupiah dan ketahanan sektor eksternal Indonesia.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics