AMRO Sebut Risiko-risiko yang Dihadapi Indonesia
AMRO melihat ada sejumlah tantangan, risiko maupun kerentanan yang dihadapi Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus mencermati sekaligus mitigasi agar perekonomian Indonesia solid.
Dalam kacamata AMRO, karena Indonesia merupakan importir minyak bersih, harga energi global yang tinggi akan memberikan tekanan tambahan pada neraca eksternal dan fiskal, meskipun harga ekspor komoditas lainnya yang lebih tinggi dapat sebagian mengimbangi efek ini.
“Di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan berbagai tantangan di dalam negeri, harga energi global yang tinggi dalam jangka panjang dan arus modal yang bergejolak membebani prospek Indonesia,” kata Kepala Grup dan Ekonom Utama AMRO, Ravi Balakrishnan dalam keterangannya.
Selain itu, arus keluar portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian global berkontribusi pada volatilitas rupiah pada kuartal pertama tahun 2026, dengan arus masuk bersih yang didorong terutama oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada kuartal kedua yang memberikan dukungan kepada rupiah. Ke depan, pasar keuangan tetap sensitif terhadap perkembangan terkait keberlanjutan fiskal, tata kelola, dan prediktabilitas kebijakan, karena faktor-faktor ini tetap menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor.
Dalam jangka panjang, Indonesia menghadapi beberapa tantangan struktural, termasuk penurunan rasio pendapatan pemerintah terhadap produk domestic bruto (PDB), sektor informal yang besar, ekspor yang bergantung pada komoditas, kemajuan yang lambat dalam meningkatkan produktivitas pertanian, dan kebutuhan untuk lebih memperkuat iklim bisnis. Namun, ada faktor pertumbuhan positif yang penting, termasuk potensi reformasi BUMN di bawah Danantara dan proses debottlenecking untuk membuahkan hasil.