Ekonomi Tumbuh 5,47%, Danamon Revisi Naik Proyeksi Pertumbuhan 2026 Jadi 5,35%
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz/Foto: Dok.Bank Danamon
Bank Danamon Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% secara tahunan (year on year/YoY) pada triwulan III 2026 menunjukkan ketahanan permintaan domestik yang lebih kuat dari perkiraan. Capaian tersebut juga ditopang penguatan industri pengolahan dan perdagangan serta berkurangnya tekanan dari sektor eksternal.
Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, dalam Flash Note yang dirilis Kamis (5/11), menyebut pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2026 melampaui ekspektasi pasar maupun proyeksi internal Danamon. Sebelumnya, konsensus ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,18%, sedangkan Danamon memproyeksikan 5%.
Menurut Faiz, terdapat dua pesan utama dari realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut. Pertama, permintaan domestik lebih kuat dari perkiraan. Kedua, sektor eksternal memberikan tekanan yang lebih kecil dibandingkan triwulan sebelumnya.
Proyeksi Danamon sebelumnya sebesar 5% didasarkan pada perkiraan moderasi sejumlah indikator konsumsi. Namun, realisasinya menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap tumbuh sebesar 5,04% pada triwulan III 2026, relatif stabil dibandingkan 5,06% pada triwulan II 2026.
Faiz menilai ketahanan konsumsi tersebut tidak hanya ditopang belanja barang ritel, tetapi juga pengeluaran untuk jasa. Belanja restoran dan hotel tumbuh 6,59%, sementara transportasi dan komunikasi meningkat 5,83%.
Kinerja sektor jasa juga tercermin dari pertumbuhan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 11,22%, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,03%.
Di sisi lain, investasi dan konsumsi pemerintah tetap memberikan dukungan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 6,06% pada triwulan III 2026, melambat dibandingkan 6,87% pada triwulan II 2026. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 15,97% pada kuartal sebelumnya.
Dari sisi produksi, penguatan industri pengolahan dan perdagangan menjadi penopang penting percepatan pertumbuhan ekonomi. Kontribusi industri pengolahan terhadap pertumbuhan PDB meningkat menjadi 1,20 poin persentase dari 0,90 poin persentase pada triwulan sebelumnya. Sementara kontribusi perdagangan naik menjadi 0,94 poin persentase dari 0,83 poin persentase.
Secara gabungan, peningkatan kontribusi kedua sektor tersebut mencapai 0,41 poin persentase, lebih besar dibandingkan percepatan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang sebesar 0,18 poin persentase.
Industri pengolahan tumbuh 5,87% secara tahunan, didukung pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 7,09%, industri kimia dan farmasi 8,10%, serta industri logam dasar 9,94%.
Sementara itu, perdagangan besar dan eceran tumbuh 7,14%, didukung peningkatan penjualan kendaraan komersial dan kendaraan listrik serta bertambahnya pasokan barang domestik dan impor.
Meski demikian, Faiz mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2026 belum menunjukkan percepatan yang merata pada seluruh komponen pengeluaran domestik. Berkurangnya tekanan ekspor neto justru menjadi salah satu faktor penting yang menjelaskan akselerasi pertumbuhan.
Pada triwulan III 2026, ekspor neto mengurangi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,28 poin persentase, jauh lebih kecil dibandingkan pengurangan sebesar 0,90 poin persentase pada triwulan II 2026. Perbaikan ini terjadi ketika ekspor riil tumbuh 4,59%, sedangkan impor meningkat lebih tinggi sebesar 7,31%.
Proyeksi Pertumbuhan 2026 dan 2027 Naik
Mempertimbangkan realisasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, Bank Danamon menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi 5,35% dari sebelumnya 5,20%.
Bank Danamon juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi 2027 menjadi 5,26% dari sebelumnya 5,10%. Kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan permintaan domestik yang lebih kuat dan berlanjutnya pelaksanaan investasi.
Untuk triwulan IV 2026, Danamon memperkirakan ekonomi tumbuh 5,04% secara tahunan. Konsumsi diperkirakan tetap mendapat dukungan dari perjalanan akhir tahun dan belanja liburan. Sementara itu, proyek-proyek yang masih berjalan diharapkan menopang investasi, konstruksi, dan aktivitas industri.
Namun, Danamon tidak memperkirakan laju pertumbuhan 5,47% pada triwulan III dapat dipertahankan hingga akhir tahun.
Sejumlah faktor berpotensi menahan pertumbuhan pada triwulan IV 2026, antara lain basis perbandingan konsumsi pemerintah yang lebih tinggi, biaya pembiayaan yang masih mahal, serta impor barang modal dan barang terkait investasi yang menyerap sebagian dorongan belanja domestik.
Danamon juga menilai perbaikan kontribusi ekspor neto dan peningkatan kontribusi komponen pengeluaran lainnya belum tentu berulang pada kuartal berikutnya.
Memasuki 2027, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap resilien, meskipun sedikit melambat. Biaya pinjaman yang masih tinggi dan ruang fiskal yang terbatas dinilai dapat membatasi akselerasi ekonomi lebih lanjut.
Tambahan kapasitas produksi dari investasi yang telah berjalan berpotensi menopang pertumbuhan secara bertahap. Namun, realisasi manfaatnya tetap bergantung pada penyelesaian proyek dan permintaan terhadap produk yang dihasilkan.