Allianz Konsisten Terapkan Digitalisasi dan Dukung Industri Syariah Global

0
736

PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life) terus mendukung perkembangan dan pertumbuhan industri keuangan, tidak hanya di Tanah Air saja tapi juga secara global. Bukti dukungan itu ditunjukkan Allianz Life di mana salah satu fokus bisnisnya dalam asuransi syariah ketika mengikuti diskusi bertemakan Managing Digital Transformation Risks for Islamic Finance Institutions (IFIs).

Direktur & Chief of Partnership Distribution Officer Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo mengatakan, pihaknya melakukan transformasi digital salah satunya untuk mengembangkan bisnis syariah pada kanal distribusi bancassurance. Dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa dan 87% penduduk muslim, Indonesia menawarkan peluang besar bagi bisnis keuangan syariah, karena besarnya populasi dan peningkatan kelas menengah.

“Di sisi lain, asuransi menawarkan potensi yang menarik karena penetrasinya masih 3% dari PDB, sementara kontribusi syariah hanya 6% dari industri,” tutur Bianto dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.

Bianto menuturkan, sangat penting bagi perusahaan asuransi untuk menggunakan saluran dan cara yang tepat untuk menjangkau banyak masyarakat Indonesia. Peran perbankan masih sangat penting mengingat lebih dari 100 juta masyarakat Indonesia adalah nasabah bank.

Baca Juga :   Menko Airlangga: Indonesia Mendorong Lokasi Sekretariat RCEP di Jakarta

“Bank juga dianggap kredibel bagi nasabah, sehingga bank atau bancassurance masih menjadi saluran yang sangat relevan bagi perusahaan asuransi yang ingin menjangkau sebagian besar Indonesia, termasuk Allianz,” ujar Bianto.

Menurut Bianto, pertumbuhan bisnis dapat terjadi dengan memanfaatkan ekosistem bisnis digital tersebut secara efektif. Bekerja sama dengan pihak lain yang telah memiliki ekosistem digital akan menjangkau masyarakat yang belum tersentuh produk asuransi sebelumnya. Memberikan customer journey yang sederhana, termasuk di dalamnya pembayaran, menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan peningkatan angka penetrasi asuransi di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Bianto mengingatkan bahwa tidak semua produk asuransi dapat dilakukan secara digital. Digitalisasi, tidak hanya dalam kerangka penjualan secara full digital, namun juga solusi digital yang sifatnya hybrid karena produk yang lebih kompleks masih memerlukan interaksi antar-manusia dalam prosesnya.

“Di Allianz, kami menerapkan proses digital secara end-to-end mulai dari proses pembelian polis asuransi dengan tatap muka digital, proses pembayaran dan aktivitas pasca-pembelian secara digital, klaim dan layanan transaksi digital untuk nasabah, sampai dengan program loyalty,” kata Bianto.

Baca Juga :   Daftar 20 Perusahaan Penerima Indonesia Syariah Excellent Awards 2025

Karena itu, kata Bianto, untuk mempercepat perkembangan asuransi syariah, diperlukan ekosistem syariah dan keterhubungan antara perusahaan asuransi dengan bank, institusi keuangan lain, fintech hingga nasabah. Kemudian edukasi mengenai keuangan dan asuransi syariah juga harus dilakukan secara berkesinambungan.

“Kerja sama dan kolaborasi dalam menumbuhkan industri syariah dan digital di berbagai bidang perlu dilakukan, antara lain dalam hal dialog dengan regulator, pencegahan fraud, peraturan yang seimbang dengan industri lain agar seimbang antara perlindungan nasabah, perlindungan perusahaan asuransi, kecepatan dan stimulasi untuk inovasi yang harus dilakukan. Selain itu, dukungan pemerintah dan regulator untuk industri syariah tentu menjadi hal yang sangat krusial sebagai pelengkap keseluruhan upaya ini,” katanya.

 

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics