Pulang dari 3 Negara, Sri Mulyani Sebut Ekonomi Dunia Tak Jadi Resesi Tahun Ini
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Economic Outlook yang digelar CNBC Indonesia, Selasa (28/2).
Proyeksi resesi ekonomi dunia tampaknya tidak akan terjadi pada tahun ini. Perekonomian Amerika Serikat diperkirakan akan ‘soft landing‘. Demikian juga ekonomi Eropa tetap resilien meski pernah dihantam kenaikan harga energi. Apalagi, Tiongkok juga sudah membuka kembali ekonominya.
Gambaran kondisi ekonomi global yang lebih baik dari perkiraan semuala ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, setelah menghadiri sejumlah konferensi di beberapa negara. Pada 14 Februari lalu, Sri Mulyani melakukan kunjungan bilateral ke Jepang, sekaligus menghadiri Joint Conference IMF-JICA di Tokyo.
Kemudian pada 17-19 Februari, Sri Mulyani mengahadiri Munich Security Conference 2023 di Jerman. Dilanjutkan dengan menghadiri pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 di India yang memegang presidensi G20 tahun ini.
Berbagai pertemuan ini, menurut Sri Mulyani, memberikan gambaran suasana perekonomian global, terutama dari negara-negara besar. Tingkat inflasi di Amerika Serikat memang turun, tetapi masih tinggi yaitu 6,4% yoy, jauh dari level yang diinginkan yaitu 2%. Padahal bank sentral Amerika Serikat, Federale Reserve (The Fed) sudah agresif menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FRR) hingga kini berada di level 4,5%-4,75%. Kenaikan Fed Fund Rate ini dimaksudkan agar ekonominya melambat, permintaan turun sehingga inflasi terkendali.
Tetapi, yang terjadi ekonomi Amerika Serikat tetap tumbuh. Kenaikan FRR hanya menimbulkan gejolak di pasar keuangan, baik di pasar saham, obligasi maupun nilai tukar.
“Namun ekonomi riilnya di Amerika masih tumbuh tinggi. Saya juga tanya sama Janet Yellen [Menteri Keuangan AS] mengenai fenomena ini, memang [ia] mengatakan bahwa on the good side, dikatakan soft landing itu kemungkinan bisa dicapai. Soft landing itu artinya inflasinya bisa turun, without creating resesi. Karena selama ini orang khawatir kenaikan suku bunga tinggi akan terjadi hard landing yaitu resesi yang akan cukup dalam. Sehingga ini memberikan harapan,” ujar Sri Mulyani dalam acara Economic Outlook yang digelar CNBC Indonesia, Selasa (28/2).
Jadi, tambah Sri Mulyani, ada ketidakcocokan antara pasar keuangan yang bereaksi cepat terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, versus sektor riil yang relatif resilien.
“Kesimpulannya kalau negara Amerika kemungkinan soft landing, that’s good news. Karena ekononi dunia tidak terlalu buruk,” ujarnya.
Selain ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik, pembukaan kembali ekonomi Tiongkok, menurut Sri Mulyani juga memberikan harapan pada kondisi ekonomi global pada tahun ini. Selain itu, kondisi ekonomi Eropa juga ternyata relatif resilien meski tahun lalu sempat dihantam kenaikan energi hingga lima kali lipat.
Ekonomi India, tambah Sri Mulyani, berdasarkan komunikasinya dengan Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman, juga tumbuh kuat.
“I think the economy is going to be relatively baik, tahun 2023, dibandingkan prediksi resesi dunia. Tetapi relatively baik itu means, 1,7% atau 2% growth, which is much slower than kondisi waktu recovery 5%-6% atau dalam situasi normal yang biasanya tumbuh 4-5%. Weak but no recession,” ujar Sri Mulyani.
Ia menambahkan inflasi memang masih menjadi faktor perhatian, yang terjadi tidak semata-mata karena sisi permintaan, tetapi juga sisi suplai akibat masalah geopolitik.