TOWR: Starlink Bukan Ancaman, Justru Peluang Dorong Ekspansi Infrastruktur Telekomunikasi

0
88

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menegaskan bahwa kehadiran Starlink di Indonesia bukan ancaman bagi bisnis fiber optic maupun operator telekomunikasi, melainkan justru peluang untuk mempercepat pemerataan akses internet di daerah-daerah terpencil.

Indra Gunawan, Direktur TOWR, menjelaskan bahwa isu utama di wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua bukan sekadar keterbatasan layanan telekomunikasi, melainkan juga minimnya ketersediaan backhaul (jalur penghubung menara ke jaringan utama). Kondisi ini membuat pengembangan infrastruktur telekomunikasi, termasuk menara, menjadi sangat terbatas.

“Adanya Starlink ini memberikan opportunity buat operator untuk memiliki backhaul selain menggunakan satelit konvensional. Kalau dulu, begitu ada daerah remote, maka operator akan menggunakan satelit GEO. Tapi sekarang dengan adanya Starlink berbasis LEO, mereka bisa memanfaatkan peluang itu dengan latensi lebih kecil dan bandwidth lebih bagus,” ujar Indra dalam paparan publik, Senin (8/9/2025).

Sebagai catatan, satelit GEO (Geostationary Orbit) berada pada ketinggian sekitar 36.000 km di atas bumi. Kelebihannya mampu mencakup area sangat luas, namun memiliki kelemahan berupa latensi tinggi. Sementara itu, satelit LEO (Low Earth Orbit) seperti yang digunakan Starlink berada di ketinggian sekitar 500–2.000 km, sehingga menawarkan latensi lebih rendah dan kecepatan internet yang lebih baik, meski membutuhkan jumlah satelit lebih banyak untuk menutupi seluruh wilayah.

Baca Juga :   PINTU Kirim Starlink ke Aceh untuk Bantu Pemulihan Pasca Bencana

Indra menambahkan, masuknya Starlink akan menjadi solusi sementara untuk mengurangi kesenjangan digital (digital divide) di wilayah terpencil. Ketika suatu daerah sudah berkembang dan kebutuhan bandwidth meningkat, pembangunan jaringan fiber optic akan menjadi lebih masuk akal secara bisnis. “Artinya, Starlink bisa menjadi komplemen yang justru mendorong kebutuhan menara baru di berbagai daerah,” jelasnya.

Menambahkan hal tersebut, Adam Gifari, Advisor Group Investor Relation TOWR, mengatakan bahwa berdasarkan studi yang dilakukan perusahaan, penetrasi Starlink di negara asalnya, Amerika Serikat, maupun di negara-negara maju lainnya tidak sampai 1%.

“Kesimpulan kami adalah, apabila suatu negara sudah memiliki menara atau penyedia layanan yang lebih terjangkau bagi operator jaringan, maka kebutuhan terhadap satelit tidak sebesar itu,” ujarnya.

Adam juga menyoroti aspek harga. Menurutnya, layanan Starlink yang dibanderol sekitar 40–50 dolar AS per pengguna per bulan jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pendapatan per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU) di Indonesia. “ARPU operator seluler di Indonesia saat ini sekitar Rp30.000–Rp40.000 per bulan atau setara 2,5–3 dolar AS. Dengan gap harga tersebut, operator seluler di Indonesia masih punya posisi yang kuat untuk tetap tumbuh,” jelasnya.

Baca Juga :   Telkomsat: Kerja Sama dengan Starlink untuk Bidik Pasar Enterprise

Dengan demikian, TOWR melihat Starlink bukan sebagai pesaing langsung, melainkan sebagai pendorong terbukanya pasar baru yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan infrastruktur menara dan fiber optic di Indonesia.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics