Kenaikan Harga Emas Kerek Inflasi Oktober 2025 Menjadi 0,28 Persen

0
113

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat inflasi pada Oktober 2025 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month), lebih tinggi dari September lalu sebesar 0,21 persen.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi tercatat 2,86 persen, sedangkan secara tahun kalender (year-to-date) sebesar 2,10 persen. 

Berdasarkan data historis, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini,  menyampaikan bahwa periode Oktober sejak 2021 hingga 2025 cenderung mencatat inflasi, kecuali Oktober 2022 yang mengalami deflasi.

“Tingkat inflasi pada Oktober 2025 merupakan yang tertinggi dibandingkan periode Oktober tahun 2021 hingga 2024,” ujar Pudji dalam konferensi pers rutin yang digelar Senin (3/11).

Pada Oktober 2025 ini, Pudji menyampaikan kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan inflasi 3,05 persen dan andil 0,21 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya adalah emas perhiasan. “Nilai inflasi emas perhiasan pada Oktober 2025 tercatat sebesar 11,97 persen, dengan andil terhadap inflasi keseluruhan sebesar 0,21 persen,” ujarnya.

Baca Juga :   Inflasi Tahun 2024 Hanya 1,57%, Terendah Sejak 1958, Indikasi Daya Beli Melemah?

Ia berkata, tren kenaikan harga emas dunia terus berlanjut dan bahkan mencatat rekor baru pada Oktober 2025. Dalam dua tahun terakhir (2024–2025), emas perhiasan konsisten menjadi penyumbang utama inflasi, seiring tren harga emas dunia yang meningkat. 

Selain emas perhiasan, beberapa komoditas lain yang turut mendorong inflasi antara lain cabai merah (andil 0,06 persen), telur ayam ras (0,04 persen), dan daging ayam ras (0,02 persen).

Di sisi lain, sejumlah komoditas memberikan andil deflasi, di antaranya bawang merah dan cabai rawit (masing-masing 0,03 persen), tomat (0,02 persen), serta beras, kacang panjang, dan cabai hijau (masing-masing 0,01 persen).

Ia mengatakan Kementerian Pertanian melalui Early Warning System mencatat bahwa produksi cabai besar menurun pada Oktober 2025, bahkan menjadi yang terendah sepanjang tahun ini. Sementara itu, produksi bawang merah tercatat meningkat di beberapa daerah seperti Solok dan Enrekang.

Dari sisi komponennya, Pudji menjelaskan bahwa seluruh komponen mencatat inflasi pada Oktober 2025. Inflasi terutama didorong oleh komponen inti yang meningkat 0,39 persen dengan andil 0,25 persen. Komoditas dominan dalam komponen ini adalah emas perhiasan serta biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

Baca Juga :   Inflasi Juni 3,52%, Mei Sebesar 4,00%

Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah mencatat inflasi 0,10 persen (andil 0,02 persen), dipengaruhi oleh kenaikan harga sigaret kretek mesin (SKM) dan tarif angkutan udara.
Adapun komponen harga bergejolak mencatat inflasi 0,03 persen dengan andil 0,01 persen, disumbang oleh cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

Secara spasial, 26 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 12 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Banten sebesar 0,57 persen, sementara deflasi terdalam tercatat di Papua Pegunungan sebesar 0,92 persen.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics