When PR Meet Data
Data menjadi instrumen yang mendukung kinerja insan hubungan masyarakat (humas) di era digital. Sebab, tanpa data insan humas akan sulit mengatasi tantangan, dan kendala yang ada. Untuk merespons kondisi itu Kelas Humas Muda Vol.4 diselenggarakan dengan mengangkat tema “When PR Meet Data”.
Kelas Humas Muda Vol. 4: When PR Meet Data, diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada peserta dalam mengukur sejauh mana efektivitas program yang dijalankan dengan menggunakan data. Tujuannya agar praktisi humas dapat menyusun strategi komunikasi yang tepat sasaran dengan berpayung pada data.
Ketua Tim Penyusunan Kebijakan Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Andi Muslim mengatakan humas harus bisa menyikapi disrupsi digital, dan menyusun strategi komunikasi yang inklusif.
Humas, kata Andi, tidak hanya dituntut untuk sekedar membangun relasi, dan membangun komunikasi positif. Insan humas perlu memiliki kemampuan menyusun strategi berdasarkan kemampuan mengolah data.
“Karena data ini adalah sumber kekuatan. Jadi akan menghasilkan perencanaan dan pelaksanaan program komunikasi,” kata Andi saat membuka acara Kelas Humas Muda Vol.4 di Bart, Artotel Thamrin, Jakarta, Sabtu (22/11/2025).
Sementara itu, Head of Corporate Communication Chandra Asri Group, Chrysanthi Tarigan menyebutkan public relations (PR) telah bertransformasi, dari yang sebelumnya sebagai pihak yang menjalin hubungan dengan media (media relations), kini jangkauannya lebih luas hingga menyentuh komunitas (community relations).
Dalam membantu perusahaan menyusun strategi, Chrysanthi menuturkan, insan humas perlu menguasai data untuk memberikan masukan dalam merancang strategi. Sebab tanpa data yang mumpuni, Chrysanthi menilai, humas akan menghadapi kesulitan dalam menyusun strategi perusahaan.
“Kalau kita tidak bisa memperlihatkan (data) ke manajemen, maka kita gagal. Karena kalau manajemen melihat data, maka mereka akan melihat bahwa ini memang penting. Misalnya kita ingin melakukan media conference. Itu harus kita lihat, siapa yang kita undang, data-data apa yang disajikan, kemudian kapan waktunya. Itu data,” ujar Chrysanthi.
Sebagai tuan rumah, Founder Kelas Humas Muda Reylando Eka Putra mengatakan selain menjalin komunikasi, humas dituntut untuk menguasai data. Hal itu, kata Reylando, sejalan dengan semangat Indonesia yang tidak hanya berbicara baik, tetapi juga menyampaikan data.
Dengan data, Reylando menambahkan, insan humas dapat mengukur efektivitas program dan kampanye yang dijalankan oleh perusahaan/organisasi.
“Misalnya ada satu event, mantap, keren, mantap keren. Tapi sebenarnya event-nya rugi, dampaknya untuk Indonesia kurang, masyarakat di sekitar tidak (merasakan dampak) apa-apa. Tapi di media, semuanya bilang mantap, keren. Tapi data statistiknya tidak ada. Jadi semuanya butuh data,” kata Reylando.
Lebih lanjut, Reylando mengatakan, Kelas Humas Muda akan diselenggarakan kembali pada Desember 2025 mendatang. Kelas Humas Muda merupakan kegiatan yang mempertemukan peserta, pemangku kebijakan, narasumber, dan pelaku usaha. Selain memberikan pemahaman, Kelas Humas Muda pun menjembatani peserta untuk membangun jaringan yang luas.