AFPI: Riset Terbaru Tunjukkan Pinjaman Daring Salah Satu Infrastruktur Keuangan Ekonomi

0
60
Reporter: Rommy Yudhistira

Riset terbaru Katadata Insight Center menemukan industri pinjaman daring menunjukkan pergeseran dari alternatif pembiayaan, menjadi salah satu infrastruktur keuangan strategis bagi perekonomian nasional.

Dalam riset berjudul “Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia”, pinjaman daring kini menjadi salah satu infrastruktur keuangan yang menopang likuiditas rumah tangga, memperluas inklusi keuangan, dan mendorong aktivitas ekonomi di segmen yang selama ini luput dari jangkauan bank.

“Data ini menegaskan bahwa pinjaman daring bukan lagi alternatif pilihan, namun sudah menjadi bagian dari infrastruktur pembiayaan nasional, baik sebagai penyangga likuiditas rumah tangga maupun sebagai katalis pertumbuhan usaha, terutama UMKM,” kata Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar dalam acara buka puasa bersama media di Jakarta, Rabu (4/3).

Hingga Agustus 2025, kata Entjik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 25,5 juta penerima aktif dengan total outstanding industri mencapai Rp 87,49 triliun, atau tumbuh 21,46% secara tahunan (yoy).

Menanggapi soal riset itu, Ketua Bidang Humas AFPI Kuseryansyah menambahkan, dalam 2 tahun terakhir terlihat pergeseran komposisi pembiayaan industri. Porsi pinjaman produktif menurun dari sekitar 30% pada akhir 2025, menjadi 20% pada pertengahan Agustus 2025.

Baca Juga :   Hari Asuransi Nasional, Momentum Imbau Masyarakat untuk Peduli Perlindungan Risiko

Kondisi itu, kata Kuseryansyah, semakin menegaskan peran penting pendanaan konsumtif sebagai buffer likuiditas rumah tangga di tengah tantangan perlambatan ekonomi. Dalam konteks makro ekonomi, konsumsi rumah tangga menyumbang 52%-58% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia dalam 5 tahun terakhir.

“Ketika pembiayaan produktif melambat, menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci agar permintaan domestik tidak jatuh. Di sinilah pembiayaan multiguna pindar berfungsi sebagai stabilisator,” ujar Kuseryansyah.

Di samping itu, kata Kuseryansyah, riset menunjukkan bahwa tidak semua pembiayaan konsumtif bersifat non-produktif. Sebagian dana digunakan untuk kebutuhan yang menunjang produktivitas, seperti komunikasi, transportasi, dan mobilitas kerja.

Dengan efek pengganda yang ditimbulkan, kata Kuseryansyah, penyaluran pinjaman daring menciptakan dampak berantai terhadap pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja dalam negeri. Hasil riset itu menunjukkan bahwa Rp 1 pembiayaan produktif yang disalurkan pinjaman daring diperkirakan memberikan dampak hingga Rp 6 terhadap perekonomian nasional, baik melalui efek langsung, dan tidak langsung lintas sektor.

Dalam agregasi tertentu, lanjut Kuseryansyah, multiplier ekonomi pembiayaan produktif juga tercatat sebesar 1,69 atau setiap Rp 1 pembiayaan produktif menghasilkan tambahan PDB riil sebesar Rp 1,69.

Baca Juga :   Omzet Pinjaman Pegadaian Tumbuh 18,4% di Triwulan I/2020

“Kontribusi ini membuktikan bahwa pendanaan Pindar produktif tidak hanya menguntungkan pelaku usaha secara mikro, tetapi juga relevan secara makro dalam mendorong output nasional, pendapatan, serta penciptaan lapangan kerja,” tambah Kuseryansyah.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics