Danamon Bukukan Laba Bersih Tahun Berjalan Konsolidasi Senilai Rp 4 T di 2025
PT Bank Danamon Indonesia Tbk membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasi sebesar Rp 4 triliun pada 2025. Angkanya meningkat 14% secara tahunan (yoy) dibandingkan 2024.
Direktur Utama Danamon Daisuke Ejima mengatakan, pertumbuhan itu didukung dengan penurunan konsisten pada biaya kredit, dan kinerja positif pada pemberian pinjaman, penghimpunan dana, dan kualitas aset yang tetap terjaga.
“Sepanjang 2025, Danamon telah mengimplementasikan prioritas strategisnya dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan pada sisi intermediasi maupun profitabilitas, dengan kualitas aset yang tetap terjaga,” kata Daisuke dalam keterangan resminya pada Kamis (19/2).
Selain itu, kata Daisuke, Danamon mencatat total kredit dan trade finance konsolidasi senilai Rp 212,7 triliun, tumbuh 9% yoy. Pertumbuhan total kredit dan trade finance ditopang pertumbuhan 14% pada kredit lini bisnis enterprise banking, dan financial institution, 10% dari lini bisnis consumer banking, 7% dari lini bisnis SME banking, dan 2% dari bisnis Adira Finance.
Pada sisi penghimpunan dana, kata Daisuke, total simpanan dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi sebesar Rp 176,9 triliun, naik 16% yoy. Dari jumlah itu, simpanan tabungan dan giro meningkat 18% yoy, mencapai Rp 75,2 triliun.
“Capaian ini tidak terlepas dari kepercayaan seluruh nasabah dan pemangku kepentingan Danamon, serta kontribusi seluruh karyawan Danamon dalam mewujudkan semangat tumbuh bersama sebagai satu grup finansial,” ujar Daisuke.
Untuk aspek keuntungan, kata Daisuke, Danamon membukukan pendapatan operasional konsolidasi sebesar Rp 21,6 triliun, naik 5% yoy. Pertumbuhan pada pendapatan operasional dikontribusikan dari pertumbuhan pendapatan non-bunga 9% yoy, mencapai Rp 3,7 triliun. Kemudian, pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) konsolidasian tumbuh 4% yoy menjadi Rp 9,6 triliun.
Penurunan biaya kredit, kata Daisuke, konsisten sebesar 10% yoy, dengan margin bunga bersih sepanjang 2025 sebesar 7,7%. Rasio cakupan loan at risk (LAR) meningkat 560 basis poin yoy mencapai 54,9%. Sementara itu, rasio cakupan NPL mencapai 280,7%.
Selanjutnya, rasio NPL bruto 20 basis poin yoy mencapai 1,7%. Daisuke mengatakan, pihaknya pun memiliki tingkat likuiditas dan permodalan yang kuat, dengan rasio cakupan LCR sebesar 158,9%, atau lebih tinggi 14,1 poin dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Rasio pendanaan stabil bersih (NSFR) sebesar 117,9%, rasio kewajiban pemenuhan modal minimum (KPMM) konsolidasian sebesar 25,4%, atau melampaui kewajiban yang ditetapkan regulasi.