Impor Pikap dari India Dinilai Berpotensi Buka Kerja Sama Bisnis dengan India dan Hilangkan Ketergantungan dari Jepang

0
43
Reporter: Rommy Yudhistira

Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (Akses) menilai impor kendaraan pikap yang dilakukan PT Agrinas Pangan Nusantara akan membuka potensi kerja sama bisnis dengan India. Juga menghilangkan ketergantungan terhadap pasar produk kendaraan Jepang.

Ketua Akses Suroto mengatakan, Indonesia memiliki perjanjian perdagangan bebas multilateral dengan India, melalui skema Asean-India Free Trade Area (AIFTA). Perjanjian itu mengatur penurunan, hingga penghapusan tarif bea masuk atas sejumlah komoditas secara bertahan.

Menurut Suroto, perjanjian tersebut memberikan keuntungan bagi Indonesia. Sebab, hubungan dagang dengan India bernilai strategis, khususnya dalam membuka potensi kerja sama bisnis.

Indonesia saat ini, kata Suroto, cenderung ketergantungan terhadap produk otomotif asal Jepang. Di sisi lain, lamanya kerja sama yang terjalin tidak serta merta membuat industri dalam negeri meningkat.

Karena itu, kata Suroto, pihaknya menilai kemitraan dengan India membuka kesempatan bagi indonesia untuk meningkatkan nilai tambah industri otomotif dalam negeri. Juga menilai hubungan kerja sama bisnis dengan India akan membuat neraca perdagangan makin berkembang positif karena yang diimpor adalah barang modal yang penting bagi peningkatan industri pangan.

Baca Juga :   Jokowi Pastikan Hilirisasi Akan Terus Berlanjut Meski Masa Jabatannya Nanti Sudah Selesai

“Ini artinya akan membuat fundamental ekonomi kita semakin kuat karena neraca pembandingnya bisa kita barter dengan ekspor hasil industri pangan barang jadi,” kata Suroto dalam keterangan resminya pada Selasa (24/2).

Di samping itu, kata Suroto, respons Menteri Perindustrian Agus Gumiwang soal impor pikap dari India justru menimbulkan tanda tanya. Semestinya, Menperin Agus harus mencari cara agar industri pangan dapat berkembang, dengan memberikan pertimbangan strategis untuk pemilihan kendaraan yang akan diimpor.

“Saya mencurigai pihak Kementerian Perindustrian ini juga sudah membawa vested interest dan jadi proxy kepentingan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)  karena salah satu Dirjennya, yaitu Putu Juli Ardika itu sebagai regulator tidak independen karena dia juga merangkap menjadi ketua Gaikindo,” ujar Suroto.

Di sisi lain, lanjut Suroto, pernyataan Direktur Utama Agrinas Pangan Nasional Joao Angelo De Sousa Mota Mota sudah bisa menjawab alasan mengimpor mobil pikap dari India. Berdasarkan klasifikasi dari Joao, impor kendaraan niaga sebanyak 105 ribu unit senilai Rp 24,66 triliun itu, semata-mata untuk mendukung usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Baca Juga :   Potensi Ekonomi Rp 1.800 T di 2025, UMKM Perlu Go Digital

Alasan lainnya, kata Suroto, menurut Joao harga kendaraan dari India lebih murah 50% dari para kompetitor. Meski memiliki harga yang lebih murah, kendaraan dari India memiliki kualitas yang cukup baik.

“Tujuanya adalah untuk memperkuat sektor pertanian, agar biaya logistik petani anggota KDKMP yang dikelola bersama melalui koperasi menjadi murah dan dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani,” katanya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics