Investor Jepang Menjadikan Indonesia Salah Satu Tujuan Investasi di Asia
Investor Jepang menilai Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi strategis di kawasan Asia. Berdasarkan laporan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Annual Survey FT2024, Indonesia berada di peringkat ke-4 sebagai negara paling menjanjikan bagi pengembangan bisnis perusahaan Jepang dalam jangka menengah.
Soal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kredibilitas kebijakan menjadi fondasi utama investasi jangka panjang, khususnya bagi mitra seperti Jepang. Untuk itu, pemerintah berupaya menjaga stabilitas fiskal, kesinambungan kebijakan, dan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan sosial.
“Bagi investor jangka panjang, yang paling penting bukan hanya potensi pertumbuhan, tetapi kepastian bahwa sebuah negara dikelola secara disiplin dan konsisten. Prospek Indonesia ke depan sangat cerah, dan kami mengundang dukungan berkelanjutan dari para mitra untuk bersama-sama mendorong pembangunan dan transformasi ekonomi nasional,” kata Purbaya dalam acara yang digelar Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ) bertajuk “Indonesia-Japan Executive Dialogue 2.0 di Jakarta, Senin (2/2).
Sementara itu, Ketua Umum PPIJ sekaligus Ketua Liga Parlemen Indonesia-Jepang Rachmat Gobel mengatakan, kualitas tata kelola dan kepercayaan merupakan elemen kunci dalam membangun kemitraan investasi jangka panjang.
Menuju 100 tahun hubungan Indonesia-Jepang, kata Rachmat, tantangan saat ini tidak hanya sekadar investasi, tetapi juga dalam membangun kepercayaan agar investasi dapat tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat jangka panjang.
PPIJ, kata Rachmat, berperan penting dalam menjaga dan mengembangkan kemitraan Indonesia-Jepang. Sebagai bagian dari dukungan sektor swasta, Rachmat menyebutkan, Gobel Group berkomitmen untuk memperkuat kemitraan antara Indonesia dengan Jepang.
“Forum ini menjadi ruang untuk membangun kepercayaan, memperdalam kolaborasi, serta menyelaraskan kerja sama kedua negara dengan agenda transformasi ekonomi nasional, sehingga kemitraan yang terbangun relevan tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk 100 tahun ke depan,” ujar Rachmat.