Melalui Kolaborasi dan Pemanfaatan Teknologi, Bank Sampoerna Salurkan 40% Kredit untuk UMKM

0
282

Tak kurang dari 300 ribu unit usaha maupun perorangan, termasuk lebih dari 77 ribu UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), dilayani Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) per akhir 2022. Jumlah ini meningkat 4 kali lipat, dibandingkan unit usaha dan perorangan yang dilayani pada satu tahun sebelumnya. Kolaborasi multipihak dan pemanfaatan teknologi digital memungkinkan hal tersebut terjadi.

“Sejalan dengan misi Bank Sampoerna untuk memajukan UMKM, hampir 40% dari pinjaman yang diberikan Bank Sampoerna merupakan pinjaman usaha secara langsung ke UMKM. Memperhitungkan pinjaman multiguna yang diberikan ke UMKM dan pinjaman ke institusi keuangan yang kemudian menyalurkannya ke UMKM, maka sesungguhnya sekitar 62% pinjaman yang disalurkan Bank Sampoerna dimanfaatkan oleh UMKM,” ujar Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis Bank Sampoerna Henky Suryaputra dalam keterangan pers, Jumat (31/3).

Per akhir 2022, Bank Sampoerna mencatatkan pemberian pinjaman sebesar Rp10,1 triliun, atau meningkat 18,5% dibandingkan pinjaman pada akhir tahun 2021. Peningkatan ini melampaui peningkatan pinjaman keseluruhan industri perbankan yang tercatat sebesar 11,4% pada kurun waktu yang sama.

Masih dalam periode waktu yang sama, Bank Sampoerna mencatatkan pertumbuhan akumulasi dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,3% menjadi Rp 10,4 triliun pada akhir tahun 2022. Pertumbuhan ini juga melampaui pertumbuhan DPK industri perbankan secara keseluruhan yang tercatat di angka 9,4%.

Baca Juga :   Kredit UMKM Meningkat, Bank KB Bukopin Optimistis Capai Target 30%

Pertumbuhan pinjaman dicapai dengan tetap mempertahankan kualitas. Meski mengalami peningkatan, rasio pinjaman bermasalah secara gross (non-performing loan/ NPL Gross) terhadap keseluruhan pinjaman dijaga pada tingkat 2,9%, atau meningkat tipis dari tingkat 2,7% pada akhir tahun 2021.

“Peningkatan rasio NPL ini kami nilai wajar mengingat kondisi perbankan terus berangsur normal dengan terlampauinya pinjaman yang berada pada periode restrukturisasi. Jumlah pinjaman yang direstrukturisasi telah berangsur menurun secara cepat. Per akhir tahun 2022, jumlah pinjaman yang direstrukturisasi berada pada tingkat 23,2%, jauh menurun dari 33,1% per akhir tahun sebelumnya,” lanjut Henky.

Sepanjang tahun 2022, Bank Sampoerna juga membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 830,2 miliar atau meningkat 15,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Kenaikan ini terutama dicapai melalui penurunan beban bunga sebesar hampir 32,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 384,4 miliar.

Pada saat yang sama, kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit bagi UMKM dalam rangka pemulihan ekonomi terkait Covid-19 telah diperpanjang oleh OJK hingga akhir 2024 mendatang. Hal ini dimanfaatkan secara konservatif oleh Bank Sampoerna melalui penurunan persentase kredit direstrukturisasi serta peningkatan beban penyisihan penurunan nilai kredit hingga 48,5%. Dengan demikian Bank Sampoerna membukukan laba bersih sebesar Rp 26,8 miliar sepanjang tahun 2022.

Baca Juga :   Bank Sampoerna dan Mekar Luncurkan Produk Pembiayaan UMKM, MekarinAja

Dalam hal permodalan, Bank Sampoerna juga memiliki fondasi yang sangat kuat. Komitmen pemegang saham terealisasikan antara lain melalui peningkatan modal Bank Sampoerna menjadi lebih dari Rp 3 triliun sejak Juni 2022 lalu. Dengan demikian Bank Sampoerna memiliki rasio tingkat kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/ CAR) sebesar 33% pada akhir 2022 dan siap melayani lebih banyak UMKM di 2023 ini.

Lebih jauh Ali Rukmijah, CEO Bank Sampoerna, menyampaikan bahwa kinerja yang dicapai Bank Sampoerna tak lepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak dan pemanfaatan teknologi. Di tahun 2023 ini Bank Sampoerna telah bekerja sama dengan tidak kurang dari 40 perusahaan fintech, perusahaan multifinance, KSP, dan berbagai institusi keuangan lain untuk memberikan pendanaan pada lebih banyak UMKM dan masyarakat umum.

Teknologi juga telah diaplikasikan sesuai kebutuhan seperti pengintegrasian fungsi face recognition (pengenalan wajah) dan liveness detection (pengenalan wajah pada aplikasi adalah benar merupakan pengguna asli, bukan foto ataupun patung) untuk mempercepat proses pembukaan tabungan Sampoerna Mobile Saving secara daring (online).

Di tahun 2023 ini juga Bank Sampoerna telah menjalankan open API (Application Programming Interface) yang memungkinkan mitra pihak ketiga membangun aplikasi dan layanan yang terintegrasi dengan layanan di Bank Sampoerna tanpa mengkompromikan keamanan jaringan ataupun data nasabah.

Baca Juga :   Melalui Kompetisi Musik, Bank Sampoerna Dorong Gen Z Menabung

Selain capaian kinerja yang baik di tahun 2022, Bank Sampoerna juga meraih beberapa penghargaan antara lain diperolehnya perdikat Sangat Bagus dari Majalah Infobank, Penghargaan Best Digital Banking dari Berita Satu Media Holding dan meraih peringkat kredit idA-/Stable dari Perusahaan Pemeringkat Indonesia (Pefindo).

Terlepas dari beberapa sentimen negatif dari beberapa kejadian di luar negeri yang dapat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia, Ali menilai bahwa terdapat cukup alasan untuk menatap optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia dan industri perbankan di tahun 2023 ini.

“Tidak hanya permintaan pinjaman telah terus menguat, tapi juga kecukupan modal di industri perbankan dan semakin padunya kolaborasi antara industri perbankan, fintech, dan industri lain, merupakan modal penting bagi pertumbuhan yang kuat dan berkualitas,” tutup Ali.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics