Sebelum Beban Pencadangan, Laba Operasional Bank OCBC NISP Tumbuh 17% Menjadi Rp3,39 Triliun
Ilustrasi kantor OCBC NISP/Dok. OCBC NISP
Bank OCBC NISP mencatat pertumbuhan laba operasional sebelum beban cadangan kerugian penurunan nilai sebesar 17% yoy, yang tumbuh menjadi Rp3,96 trilun dari sebelumnya Rp3,39 triliun di periode sembilan bulan tahun 2019. Pertumbuhan ini didukung oleh pendapatan operasional yang tumbuh 10% yoy sedangkan biaya operasional naik 1% yoy.
“Kemampuan Bank OCBC NISP untuk terus tumbuh secara berkelanjutan ini didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan fokus strategi Bank dalam meningkatkan dana murah (CASA), mempercepat akselerasi digital dan konsistensi menjaga kualitas kredit. Kinerja positif ini menjadi modal kami untuk terus memberikan dukungan kepada seluruh nasabah baik individu maupun korporasi agar dapat terus melaju jauh bersama meraih aspirasi keuangannya sekaligus berkontribusi untuk turut menggerakkan perekonomian Indonesia di situasi yang menantang ini,” ujar Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP dalam siaran pers, Rabu (3/11).
Keberhasilan atas upaya Bank OCBC NISP untuk meningkatkan CASA pada akhir September 2020 terlihat dari pertumbuhannya yang sebesar 28% yoy. Peningkatan ini didukung oleh layanan digital yang terus dikembangkan, baik melalui Internet Banking maupun aplikasi mobile banking ONe Mobile dan Velocity@OCBCNISP. Selain CASA yang konsisten bertumbuh, deposito juga tumbuh sebesar 9% yoy. Dengan demikian, secara keseluruhan, DPK Bank OCBC NISP tumbuh sebesar 16% yoy menjadi Rp153 triliun dari Rp132 triliun pada periode yang sama tahun 2019.
Akselerasi digitalisasi terus dilakukan oleh Bank OCBC NISP dengan didukung oleh edukasi terkait pemanfaatan transaksi digital yang aman dan nyaman, mampu memberikan dampak positif. Inovasi pada layanan internet banking serta ONe Mobile untuk nasabah individu dan Velocity@OCBCNISP untuk nasabah korporasi terus mengalami pertumbuhan. Untuk periode 9 bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2020, jumlah transaksi melalui ONe Mobile meningkat 63% yoy, sementara jumlah nilai transaksi dan penggunanya tumbuh masing-masing sebesar 114% yoy dan 46% yoy. Tidak hanya nasabah individu, peningkatan jumlah nilai transaksi dari nasabah korporasi mencapai sebesar 55%, sementara jumlah pengguna Velocity@OCBCNISP meningkat 21% yoy.
Akselerasi digitalisasi ini juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan beban operasional yang lebih rendah dibanding pertumbuhan pendapatan operasional. Beban operasional tumbuh 1% yoy menjadi Rp2,8 triliun, sementara pendapatan operasional tumbuh 10% yoy menjadi Rp6,8 triliun.
Dengan kondisi dunia usaha yang belum berjalan normal karena pandemi, perekonomian nasional pun turut mengalami tekanan. Tekanan terhadap indikator makro ekonomi ini turut mempengaruhi jumlah pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai kredit sehingga Laba Bersih Bank mengalami kontraksi menjadi Rp1,9 triliun hingga akhir bulan September 2020 dari sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,2 triliun.
Selain inisiatif peningkatan CASA dan akselerasi digitalisasi, Bank juga akan meneruskan upaya optimalisasi beban operasional sehingga produktivitas dan efisiensi dapat terus ditingkatkan, serta penyaluran dan pengelolaan kredit yang berhati-hati untuk menjaga kualitas aset yang sehat.
Konsistensi Bank OCBC NISP dalam menjaga kualitas kredit tercermin dari rasio NPL (non-performing loan) net yang tercatat sebesar 0,9% dan NPL bruto sebesar 1,8% yang berada di bawah rata-rata NPL industri perbankan. Di tengah perekonomian yang melambat, Bank OCBC NISP tetap menjalankan fungsi intermediasinya dengan berpedoman pada prinsip kehati-hatian. Hingga akhir September 2020, jumlah kredit tercatat sebesar Rp118,9 triliun, turun 1% dari Rp119,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Bank juga senantiasa mempertahankan likuiditas yang kuat seiring penyaluran kredit yang prudent dengan mencatatkan LDR sebesar 77,3% dan LFR 75,5%. Kesehatan keuangan Bank terjaga dengan baik di kuartal III 2020, terlihat dari rasio kecukupan modal (CAR) yang berada pada level 21% dan rasio ketersediaan dana untuk memenuhi kewajiban (Liquidity Coverage Ratio) yang mencapai 186%.