Semester I 2026, BTN Raup Laba Bersih Rp2,40 Triliun, Tumbuh 40,8 Persen

Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten dilakukan BTN.
0
7

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun atau tumbuh 40,8% secara tahunan (year on year/yoy) pada semester I/2026, dari Rp1,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) turun dari 3,3% pada semester I/2025 menjadi 2,99% pada semester I/2026.

“Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten kami lakukan. Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, Kamis (16/7).

Nixon menjelaskan transformasi BTN yang dibangun secara bertahap selama lebih dari satu dekade dimulai dari penguatan posisi sebagai housing specialist, dilanjutkan dengan transformasi operasional, hingga kini memasuki fase beyond mortgage untuk membangun ekosistem layanan keuangan yang lebih terintegrasi bagi keluarga Indonesia.

Perseroan juga terus memperkuat fondasi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan melalui digitalisasi proses, optimalisasi neraca, penguatan pengendalian risiko, serta implementasi AI Governance guna memastikan pertumbuhan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.

Hingga semester I/2026, BTN mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun, meningkat 11,2% yoy dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan kredit di sektor perumahan sebesar 4,8% yoy dari Rp317,77 triliun menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026, serta lonjakan kredit non-perumahan sebesar 46,1% yoy dari Rp58,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp85,22 triliun pada Juni 2026.

Baca Juga :   Akuisisi Bank Victoria Syariah, UUS BTN Syariah Raup Laba Bersih Rp872 Miliar pada 2024

Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi mesin pendorong kredit perumahan dengan kenaikan sebesar 8,1% yoy dari Rp182,17 triliun menjadi Rp196,96 triliun per Juni 2026. Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN juga tercatat mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026, sejak dirilis pada akhir Oktober 2025.

Untuk peningkatan kredit non-perumahan, lanjut Nixon, mayoritas didukung oleh perluasan penetrasi pada berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan, lembaga keuangan, hingga ritel. Perseroan juga menggandeng perusahaan multifinance untuk memperluas pembiayaan kendaraan bermotor sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis beyond mortgage sekaligus meningkatkan cross-selling kepada nasabah eksisting.

Sejalan dengan ekspansi pembiayaan, total aset konsolidasi BTN meningkat dari Rp484,96 triliun menjadi Rp545,16 triliun per semester I/2026 atau tumbuh 12,4% yoy. Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kapasitas Perseroan dalam mendukung pembiayaan sektor perumahan nasional sekaligus memperluas bisnis pada ekosistem terkait.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BTN mencapai Rp433,00 triliun per semester I/2026 atau tumbuh 6,6% yoy dari Rp406,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Nixon menjelaskan BTN juga terus memperkuat struktur dana murah sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. BTN telah menggelar berbagai inisiatif seperti akuisisi dana ritel, peningkatan transaksi digital, penguatan payroll, hingga perluasan kerja sama dengan pemerintah daerah dan institusi. Berbagai inisiatif tersebut berhasil menjaga cost of fund berada di kisaran 3,01% sepanjang semester I/2026.

Baca Juga :   Garuda Indonesia Bukukan Laba Bersih US$ 6,98 Juta untuk 2019

“Kami tidak hanya mengejar pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut didukung struktur pendanaan yang semakin kuat sehingga mampu menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis Perseroan dalam jangka panjang,” ujar Nixon.

Sejalan dengan penguatan struktur pendanaan, hingga semester I/2026, superapps Bale by BTN telah digunakan lebih dari 4,3 juta pengguna. Peningkatan jumlah pengguna tersebut didukung lebih dari 344 ribu merchant, lebih dari 14 ribu developer, dan 59 pemerintah daerah. Secara transaksi, jumlah dan nominal transaksi menggunakan Bale by BTN tumbuh masing-masing sebesar 41,6% yoy dan 55,3% yoy per Juni 2026.

Seiring pertumbuhan bisnis, kualitas aset BTN juga terus membaik. Selain NPL yang membaik, Perseroan juga sukses menurunkan Loan at Risk (LAR) menjadi 18,6% pada semester I/2026 dari 20,2% pada periode yang sama tahun lalu. Per semester I/2026, Perseroan juga menekan Cost of Credit (CoC) menjadi 0,7% dari 2,0% pada semester I/2025. Perbaikan kualitas aset tersebut mencerminkan keberhasilan BTN dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, memperkuat manajemen risiko, serta meningkatkan kualitas portofolio pembiayaan.

“Transformasi yang kami jalankan bukan hanya bertujuan memperbesar bisnis, tetapi membangun fondasi pertumbuhan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. Dengan kualitas aset yang semakin baik, struktur pendanaan yang semakin kuat, serta ekosistem digital yang terus berkembang, BTN optimistis mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Nixon.

Akuisisi Portofolio SMBC Indonesia 

Sebagai bagian dari strategi beyond mortgage serta untuk memperkuat pertumbuhan anorganik, BTN telah menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai transaksi sekitar Rp12,6 triliun.

Baca Juga :   RUPST BTN Merestui Akuisisi Bank Victoria Syariah

Nixon menjelaskan akuisisi tersebut memperkuat komposisi portofolio kredit non-perumahan BTN sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang tetap terjaga. Seluruh portofolio yang diakuisisi merupakan kredit berkualitas (performing loan), sehingga mendukung perbaikan kualitas aset Perseroan dan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas.

“Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang,” ujar Nixon.

BTN juga akan melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 senilai sekitar Rp7,34 triliun. Dengan demikian, secara keseluruhan Perseroan akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun. Nixon menjelaskan melalui strategi pertumbuhan anorganik tersebut, BTN menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30% dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan, sehingga struktur bisnis Perseroan menjadi semakin seimbang, resilien, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics