Studi HSBC: Terjadi Pergeseran Alokasi Aset dari Uang Tunai ke Emas
Hasil studi HSBC mengungkap terjadi pergeseran alokasi aset dari uang tunai ke emas. Buktinya data responden terkait kepemilikan uang tunai menurun menjadi 19%, dan alokasi emas meningkat sebesar 12%.
International Wealth and Premier Banking, HSBC Indonesia, Lanny Hendra mengatakan, berdasarkan hasil studi HSBC yang dilakukan Ipsos Asia Limited, terdapat 3 produk keuangan teratas yang dimiliki investor kelas atas (affluent) di Indonesia yakni emas fisik 44%, deposito berjangka 33%, dan investasi terkelola 31%.
“Selain emas, portofolio mereka terdiversifikasi di berbagai aset seperti properti 10%, obligasi 10%, dan saham 5%,” kata Lanny dalam media briefing di HSBC Wealth Centre, Jakarta, Senin (15/9).
Untuk ke depan, kata Lanny, ada minat yang kuat dari responden mengenai investasi unit link sebesar 47%, dan solusi keuangan terkelola 43%.
“Minat terhadap produk-produk baru dan lebih kompleks seperti emas digital, multi-asset solutions, dan private market funds secara signifikan lebih tinggi di kalangan Gen Z dan milenial, yang menunjukkan selera risiko dan adopsi inovasi yang lebih besar,” ujar Lenny.
Untuk kalangan investor kelas atas, kata Lanny, masih tetap optimistis terhadap prospek perekonomian nasional. Sebanyak 84% investor kelas atas merasa puas dengan kualitas saat ini. Angkanya meningkat 2% dari tahun sebelumnya.
“Keyakinan untuk mencapai tujuan keuangan sangat tinggi di semua kelompok umur, namun Gen Z dan milenial menunjukkan tingkat kepercayaan tertinggi, melampaui rata-rata global secara signifikan,” katanya.
Sebagai informasi, data dikumpulkan melalui survei daring yang dilakukan pada Maret 2025. Survei itu melibatkan 10.797 investor kelas atas di 12 negara, termasuk 547 responden dari Indonesia. Kriteria responden didefinisikan sebagai individu affluent yakni yang memiliki aset yang bisa diinvestasi.