Tahun 2022, Pertamina Geothermal Energy Bukukan Laba Bersih US$127,3 Juta, Naik 49,7%

0
388

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE (PGEO) membukukan laba bersih sebesar US$127,3 juta sepanjang tahun 2022 lalu, naik 49,7% dari US$85 juta pada tahun sebelumnya. Selain karena kenaikan pendapapatan dari penjualan uap, listrik dan pendapatan lain, manajemen menyebut, kenaikan laba bersih ini terjadi karena program efisiensi.

Sepanjang 2022 perusahaan mencatat peningkatan pendapatan operasional sebesar 4,7% year-on-year (yoy), dari US$368,82 juta pada tahun 2021 menjadi US$386,06 juta pada 2022. Salah satu faktor peningkatan tersebut berasal dari meningkatnya harga jual uap dan listrik yang mengacu pada US Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI).

“Kenaikan laba ini didukung beban operasional perusahaan yang turun signifikan sebagai hasil dari program efisiensi yang dijalankan oleh perusahaan. Dari sisi pendapatan lain-lain, PGE juga membukukan penjualan carbon credit sebagai new revenue generator,” ujar Muhammad Baron, Corporate Secretary PGE dalam keterangan yang diterima Theiconomics, Kamis (30/2).

Untuk menjaga pertumbuhan bisnis ke depan, PGE terus meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit panas buminya. Hingga tahun 2027, anak usaha Pertamina ini akan menambah kapasitas hingga 600 MW. Sebagai bagian dari upaya tersebut, saat ini PGE sedang membangun PLTP Lumut Balai Unit 2 dengan kapasitas sebesar 55 MW yang direncanakan akan beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date) pada akhir 2024.

Baca Juga :   Pertamina Geothermal Energy Raih Peringkat Pertama ESG Tingkat Dunia

Selain itu, PGE sudah menyelesaikan Front End Engineering Design (FEED) untuk fasilitas Fluid Collection and Reinjection System (FCRS). Tahap ini merupakan bagian dari proyek pembangunan PLTP Hulu Lais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas terpasang sebesar 2 x 55 MW yang diharapkan beroperasi secara komersial (Comercial Operation Date) pada tahun 2026.

Ke depannya perseroan akan fokus mengoptimalkan aset panas bumi yang sudah dimiliki. Salah satunya dengan meningkatkan kapasitas produksi melalui metode co-generation technology dengan memanfaatkan air panas (brine) yang ada untuk membangkitkan tenaga listrik. Teknologi co-generation sudah diimplementasikan pada PLTP Lahendong dengan memanfaatkan brine sisa produksi uap sebesar 700 KW.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics