Harga Emas Masih Berpotensi Menanjak Lagi
Ilustrasi emas batangan/Dok. Dupoin Futures Indonesia
Tren bullish XAU/USD ditunjukkan dengan tembusnya kembali level US$3.365 pada pembukaan perdagangan Asia hari Senin (14/07/2025). Langkah proteksionis Amerika Serikat (AS) memicu gelombang permintaan safe-haven. Pada sesi Jumat (11/07/2025) lalu, emas kembali menguat hampir 1%, setelah pasar terkejut oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang kini merambah Kanada dan siap diperluas ke Uni Eropa, Meksiko, serta komoditas strategis seperti tembaga.
“Pola higher low dan higher high pada candlestick harian, serta crossover Moving Average jangka pendek menanjak melewati MA jangka menengah, menegaskan dominasi pembeli,” kata Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha dalam keterangannya.
Dalam skenario utama, Andy juga memperkirakan bahwa jika tekanan beli berlanjut, XAU/USD memiliki ruang untuk menanjak hingga area US$3.390 dalam beberapa hari ke depan. Namun Andy juga menekankan pentingnya level US$3.350 sebagai barometer kunci: jika support ini ditembus dalam aksi reversal, koreksi menuju kisaran US$3.320–US$3.330 dapat terjadi sebelum tren kembali terbentuk.
Fundamental perdagangan internasional semakin menambah daya tarik emas. Sabtu (12/07/2025) lalu, Trump mengumumkan tarif 30% bagi barang impor dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus, serta tarif 35% pada Kanada. Rencana kenaikan bea masuk 15–20% untuk mitra dagang lain dan lonjakan 50% untuk impor tembaga memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok global, mendorong investor mengalihkan modal ke logam kuning sebagai lindung nilai.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga turut menopang reli emas. Insiden rudal Israel yang meleset di Gaza Tengah menewaskan beberapa warga Palestina, memantik kekhawatiran eskalasi konflik. Sementara upaya utusan AS untuk merundingkan gencatan senjata di Qatar menunjukkan konflik ini dapat berkepanjangan, memperkuat posisi emas sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik.
Di bidang moneter, sikap dovish The Fed tampak terbatas. Risalah rapat FOMC Juni mengungkap mayoritas pejabat enggan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat karena risiko inflasi dari kebijakan tarif. Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee menyatakan bahwa ketidakpastian tarif membuat proyeksi inflasi menjadi rumit, sehingga mendukung keputusan penundaan pemangkasan suku bunga.
Para pelaku pasar kini juga menantikan data ekonomi AS pekan ini. Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni diproyeksikan naik 2,6% YoY dan 0,3% MoM, sedangkan IHK Inti diperkirakan stabil di 2,8% YoY dengan kenaikan 0,3% bulanan. Penjualan ritel Juni kemungkinan stagnan di 0%, dan klaim tunjangan pengangguran awal diperkirakan turun sedikit ke 225 ribu. Hasil rilis ini akan memengaruhi persepsi pelonggaran moneter dan imbal hasil obligasi.