Masih Nego, Pemerintah Ingin Diskon Harga untuk Saham Divestasi Vale Indonesia

1
161

Pemerintah Indonesia ingin mendapatkan harga murah untuk saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang akan didivestasikan ke holding BUMN Pertambangan, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan saat ini sedang berlangsung negosiasi harga dari 14% saham  INCO yang akan dibeli oleh MIND ID tersebut.

Menjawab pertanyaan wartawan dalam “Konferensi Pers: Capaian Tahun 2023 dan Program Kerja Tahun 2024 Subsektor Mineral dan Batubara”, Tri mengatakan layaknya proses transaksi jual beli, pihak penjual yaituVCL dan SMM menginginkan harga yang tinggi.

Sebaliknya, pemerintah Indoensia dan MIND ID selaku pembeli juga menawarkan harga yang rendah.

“Apakah ketinggian atau tidak, kan nanti ada negosisi. Ruang itu masih terbuka,” ujarnya tanpa menyebutkan harga yang ditawarkan masing-masing pihak.

Tri mengatakan dalam tiga bulan terakhir, rata-rata harga saham Vale Indonesia adalah Rp4.600 per saham.

Harganya saham emiten dengan kode INCO ini dalam tren menurun dalam satu tahun terkahir. Mengutip RTI, pada penutupan perdagangan saham Selasa 16 Januari 2024, harga saham INCO berakhir di level Rp4.150 per saham.

Seandianya harga pembelian saham divestasi tersebut menggunakan harga pasar, Tri mengatakan “mesti ada diskon tertentu.”

Baca Juga :   RNI Dorong Produktivitas Pertanian Lewat Pengembangan Pangan Terintegrasi

“Negosiasi masih berlangsung. Enggak kaku-kaku amat. Namanya penawaran, yang jual pinginnya [harga] tinggi, yang beli pinginnya [harga] rendah. Biasalah itu,” ujarnya.

 

Dipuji sebagai perusahaan tambang yang menjaga alam

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt), Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Bambang Suswantono menilai Vale Indonesia sebagai perusahaan tambang yang memiliki kinerja yang baik dalam pengelolaan lingkungan.

“Di bidang lingkungan kita juga mengakui Vale itu cukup konsisten dalam menjaga alam, apalagi kalau kita lihat sistem penghijauan, sistem reklamasi,” ujar pria berpangkat Letnan Jenderal TNI ini.

Kinerja yang baik dalam pengelolaan lingkungan ini, tambah Bambang terlihat dari kondisi Danau Matano. Danau itu, menurut Bambang “tidak tercemar sama sekali”, meski berada di sekitar wilayah operasi Vale Indonesia.

“PT Vale bisa menjaga air tailing itu tidak masuk ke danau sehingga tetap terjaga kelestariannya,”ujarnya.

Vale Indonesia, menurut Bambang juga memiliki nilai diplomasi, karena “kita lihat smelter-smelter nikel yang ada hampir semunya dari China. Ini satu-satunya non China.”

“Harus kita bantu, kita amankan agar kesan internasional investasi di Indonesia ini sehat, tidak melihat sekedar China saja,” ujarnya.

Baca Juga :   Komisi XI DPR Setujui PMN Senilai Rp 28,8 T untuk Hutama Karya, Begini Perinciannya

 

MIND ID akan menjadi pengendali

MIND ID saat ini sudah memiliki 20% saham Vale Indonesia. Bila divestasi 14% berhasil selesai dilakukan, maka holding BUMN tambang ini bakal memiliki 34% saham Vale Indonesia dan menjadi pengendali.

Tambahan 14%  diperoleh dari divestasi saham pemegang saham asing, antara lain milik Vale Canada Limited (VCL), yang saat ini memiliki 43,79% saham di Vale Indonesia.

Proses divestaasi 14% ini sudah sampai pada tahap penandatanganan Heads of Agreement (HoA) atau Pokok-Pokok Perjanjian komitmen divestasi saham yang dilakukan di San Fransisco pada Jumat, 17 November 2023.

HoA merupakan langkah awal dalam pemenuhan komitmen divestasi Vale Indonesia dalam rangka pemenuhan persyaratan konversi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), mengingat akan berakhirnya masa berlaku Kontrak Karya (KK) pada akhir tahun 2025.

 

Dimulai 1968, kepemilikan saham Vale Indonesia terus berganti

Kontrak karya PT Vale Indonesia atau yang sebelumnya bernama PT International Nickel Indonesia Tbk dimulai sejak 1968. PT International Nickel Indonesia Tbk merupakan anak perusahaan dari Inco Canada Limited.

Pada tahun 1990, PT International Nickel Indonesia Tbk resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode INCO, dimana saat itu 20% sahamnya dimiliki publik.

Baca Juga :   Menteri Erick Paparkan Sederetan Inisiatif untuk Mendorong Kemandirian Pangan

Kemudian tahun 2006, Inco Canada Limited diakuisisi oleh Vale. Seiring dengan akuisisi tersebut, nama perusahaan pun berubah menjadi PT Vale Indonesia Tbk pada tahun 2011.

Tahun 1996, Kontrak Karya Vale Indonesia diperbaharui dan diperpanjang hingga tahun 2025.

Pada tahun 2014, Vale Indonesia juga melakukan renegosiasi dan amandemen terhadap Kontrak Karya,  dimana salah satu item yang disepakati saat itu adalah perusahaan diwajibkan untuk melakukan divestasi kembali (divestasi kedua) sebesar 20% saham dalam kurun waktu lima tahun.

Divestasi kedua ini terlaksana pada tahun 2019 dengan ditandataganinya Head of Agreement dengan PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum yang saa itu masih berstatus holding BUMN pertambangan. Proses divestasi ini selesai pada Oktober 2020 dimana Inalum resmi membeli saham Vale Indonesia sebanyak 20%.

Pasca divestasi kedua ini, kepemilikan saham Vale Indonesia pun terdiri dari Vale Canada Limited sebesar 43,79%, Inalum yang kemudian dialihkan ke MIND ID sebesar 20%, Sumitomo Metal Mining sebesar 15%, publik 20% dan Vale Japan Limited sebesar 0,54%.

Divestasi 14% yang sedang berlangsung saat ini merupakan divestasi ketiga yang membuat perusahaan tambang ini kembali berganti pemegang saham pengendali.

1 comment

Leave a reply

Iconomics