OJK Sebut Fundamental Pasar Modal Indonesia Kuat, dan Pentingnya Menjaga Kepercayaan Investor

0
37
Reporter: Rommy Yudhistira

Pemerintah bersama regulator pasar modal berkomitmen menjaga stabilitas, dan kepercayaan investor di tengah tekanan ekonomi global. Juga dalam kondisi dinamika geopolitik, dan meningkatnya risiko capital outflow dari pasar negara berkembang.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pasar modal Indonesia memiliki fondasi domestik yang kuat. Meski menghadapi volatilitas global, ekonomi Indonesia masih menunjukkan fondasi kuat, terutama yang ditopang dari pertumbuhan investor domestik.

Untuk itu, kata Friderica, penguatan basis investor domestik, baik retail maupun investasi, menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

“Selama fundamental ekonomi Indonesia tetap baik, maka pasar modal Indonesia juga akan tetap memiliki daya tahan yang kuat,” ujar Friderica dalam Indonesia Investor Relations Forum (IRF) 2026, Jakarta, Senin (11/5).

Kemudian, kata Friderica, pihaknya juga menekankan komunikasi yang transparan dan kolaboratif di antara regulator, emiten, media, dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap industri pasar modal Indonesia dapat terjaga.

“Pasar modal yang sehat membutuhkan komunikasi yang sehat. Karena komunikasi membentuk perspektif, dan perspektif membentuk kepercayaan,” kata Friderica.

Baca Juga :   Saham Alibaba Turun 9% karena Tuduhan terhadap Seseorang Bermarga Ma

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi Evita Manthovani mengatakan, pihaknya menyoroti sejumlah langkah reformasi pasar modal yang mendapat perhatian positif.

Beberapa kebijakan itu, kata Evita, seperti peningkatan ketentuan free float saham dari 7,5% menjadi 15%, kenaikan porsi saham RTI 45 bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi dari 8% menjadi 20%. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan aksesibilitas, dan likuiditas pasar modal Indonesia.

“Kebutuhan pembiayaan Indonesia diperkirakan meningkat signifikan, dari Rp 7.400 triliun menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029. Karena itu, menjaga kepercayaan investor dan memperkuat daya tarik pasar modal menjadi sangat penting,” kata Evita.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics