PDNS Diretas, Semuel Abrijani Pangerapan Mundur dari Kominfo

0
41

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika [Kominfo] Semuel Abrijani Pangerapan menyatakan mundur dari jabatannya itu, sekaligus dari Pemerintahan. 

Dilantik sebagai Dirjen delapan tahun lalu, mantan Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) itu menyatakan kembali ke sektor swasta.

“Saya ingin menyatakan bahwa per tanggal 1 Juli kemarin, saya sudah mengajukan pengunduran diri saya secara lisan dan suratnya sudah saya serahkan kemarin (3 Juli) kepada Menteri Kominfo,” ujar Samuel dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/7).

“Terima kasih atas kerja samanya yang telah terjalin selama ini dan saya mohon maaf apabila ada kesalahan dan perkataan saya yang kurang berkenan,”tambahnya.

Pria keahiran Makasar ini mengakui pengduran diri tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab moral atas peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 sejak 20 Juni lalu.

“Kejadian ini bagaimana pun secara teknis adalah tanggung jawab saya sebagai Dirjen pengampuh dalam proses transformasi pemerintahan. Jadi, saya mengambil tanggung jawab ini secara moral dan saya menyatakan harusnya selesai di saya karena ini adalah masalah yang harusnya saya tangani dengan baik,” ujarnya.

Baca Juga :   Layanan yang Pulih Pasca Serangan Pusat Data Nasional Sementara 2

Samuel mengatakan, pasca pengunduran diri ini, ia akan tetap fokus pada transformasi digital Indonesia. 

“Bangun Indonesia tidak harus dari pemerintah. Dulu juga saya dari swasta. Jadi, saya balik lagi ke komunitas swasta,” ujanrya.

Server Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) mengalami gangguan sejak 20 Juni lalu akibat serangan ransomware, ungkap Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (24/6).

“Hasil identifikasi kami atas kendala yang terjadi pada Pusat Data Nasional Sementara akibat serangan serangan siber berjenis ransomware,” ujar Kepala BSSN Hinsa Siburian saat memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Hinsa mengatakan, dari insiden ransomware tersebut, BSSN menemukan adanya upaya penonaktifkan fitur keamanan Windows Defender yang terjadi mulai 17 Juni 2024 pukul 23.15 WIB, sehingga memungkinkan aktivitas malicious dapat berjalan.

Aktivitas malicious mulai terjadi pada 20 Juni 2024 pukul 00.54 WIB, diantaranya melakukan instalasi file malicious, menghapus filesystem penting, dan menonaktifkan service yang sedang berjalan. File yang berkaitan dengan storage, seperti: VSS, HyperV Volume, VirtualDisk, dan Veaam vPower NFS mulai didisable dan crash.

Baca Juga :   Komisi I Desak Kominfo Bereskan Masalah Peretasan Situs PDN

“Diketahui tanggal 20 Juni 2024, pukul 00.55 WIB, Windows Defender mengalami Crash dan tidak bisa beroperasi,” jelas Hinsa.

Selang dua pekan setelah melakukan aksinya, identitas peretas Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 terkuak. 

Akun Fusion Intelligence Center @ StealthMol yang membagikan unggahan di media sosial X (dulu Twitter) menyampaikan peretasan terhadap PDNS 2 itu dilakukan oleh geng ransomware Brain Cipher.

Dalam unggahan itu, peretas berjanji merilis kunci deskripsi secara gratis pada Rabu 3 Juli.

Samuel mengatakan pihaknya sudah mendapakan kunci deskripsi tersebut dan tim teknis sedang mengujicobanya di spesimen data yang ada.

“Tadi malam kita mencoba di spesimen yang kita miliki. Itu bisa dibuka. Itu saja, saya enggak tahu lebih lanjut,” ujar Samuel.

Leave a reply

Iconomics