Perang Berkecamuk di Ukraina, KSSK Nilai Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Masih Normal
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati /Theiconomics
Dalam kondisi global yang demikian, KSSK menilai pemulihan ekonomi Indonesia tetap terjaga terutama ditopang dengan meredanya atau makin baiknya penanganan Covid-19 dan diikuti oleh pelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat yang kemudian makin mendorong kegiatan perekonomian di dalam negeri.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat, yang didukung oleh kegiatan konsumsi masyarakat atau rumah tangga, kegiatan investasi, serta dukungan belanja pemerintah,” ujar Sri Mulyani.
Kinerja ekspor juga mengalami peningkatan sangat signifikan namun tetap harus wasapada dengan perkembangan perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi global yang terancam akibat terjadinya perang di Ukraina.
Sejumlah indikator ekonomi domestik, hingga awal Maret 2022 tercatat baik seperti indeks keyainan konsumen, penjualan eceran, pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor, konsumsi semen dan konsumsi listrik.
Dari sisi eksternal, surplus neraca perdagangan pada Februari 2022 meningkat mencapai US$3,83 miliar. Surplus ini didukung oleh kenaikan surplus neraca perdagangan non migas terutama dengan meningkatnya harga-harga komoditas seperti batubara, besi baja serta CPO.
Di pasar keuaangan, aliran modal asing ke pasar keuangan domestik mengalami tekanan dimana investasi portofolio mengalami net outflow sebesar US$1,3 miliar sampai dengan 31 Maret 2022. Namun, tekanan net outflow ini bila dibandingkan dengan emerging market lainnya yang juga mengalami net outflow, masih relatif lebih rendah atau lebih baik.
Dalam kondisi tekanan net outflow ini, cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat. Pada posisi Maret 2022, cadangan devisa Indonesia tetap pada tingkat yang tinggi yaitu menacpai US$139,1 miliar. Hal ini setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemeirintah. Standar cadangan devisa ini berada di atas standar kecukupan internasional yang biasanya adalah sekitar 3 bulan impor.
Nilai tukar Rupiah tetap terjaga di tengah meingkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Nilai tukar Rupiah pada triwulan pertama tahun 2022 mengalami sedikit depresiasi sebesar 0,33% secara rata-rata dibandingkan posisi akhir tahun 2021. Namun, KSSK menilai depresiasi Rupiah tersebut masih lebih rendah dibandingkan mata uang-mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. Misalnya, Malaysia (Ringgit) mengalami depresiasi 1,15% ytd, India (Rupee) mengalami depresiasi 1,73% ytd, Thailand (Bhat) mengalami depresiasi 3,15% ytd.
Inflasi di Indonesai hingga Maret 2022 tetap terkendali pada tingkat 2,64% yoy. Hal ini didukung oleh masih cukup terkendalinya sisi penawaran di dalam merespons kenaikan permintaan. Inflasi yang relatif rendah ini juga terjadi karena tetap terkendalinya ekspektasi inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah serta berbagai respons kebijakan yang dilakukan pemerintah terutama di dalam menjaga barang-barang yang diatur oleh pemerintah.
Meskipun berbagai indikator ekonomi domestik ini masih relatif baik di tengah tekanan eksternal, KSSK menilai sejumlah risiko rambatan yang berasal dari kondisi global akan berpotensi mempengaruhi dari sisi inflasi, cost of fund dan kinerja perekonomian. Oleh karena itu, KSSK tetap mewaspadai dan menatau stabilita sistem keuangan untuk tetap menjaga stabilitas sistem keuangan kita.
“KSSK akan terus memperkuat koordinasi dan pemantauan bersama termasuk di dalam merumuskan respons kebijakan yang terkoodirinasi dan bersinergi di dalam menjaga pemulihan ekonomi nasional di dalam menghadapai gejolak dan dinamika kondisi global yang sangat tinggi,” ujar Sri Mulyani.
Halaman Berikutnya