Permata Bank Catat Laba Bersih Rp3,6 Triliun pada 2025
Meliza M. Rusli, Direktur Utama Permata Bank (tengah); Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank (kiri); Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank (kedua dari kanan); serta Katharine Grace, Chief of Corporate Affairs & Sustainability (kanan), dalam sesi pemaparan kinerja perusahaan pada Permata Bank Public Expose 2026.
PT Bank Permata Tbk (Permata Bank atau BNLI) mencatat kinerja keuangan yang stabil sepanjang 2025 dengan perolehan laba bersih sebesar Rp3,6 triliun. Capaian tersebut disampaikan dalam Public Expose atau Paparan Publik yang digelar pada 12 Maret 2026 di Jakarta.
“Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan. Dengan fundamental yang resilien, dukungan penuh dari Bangkok Bank, serta kepercayaan seluruh pemangku kepentingan, Permata Bank mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan serta kualitas aset yang tetap terjaga. Kami yakin dengan tetap menjaga skala dan relevansi, Permata Bank dapat terus tumbuh berkelanjutan serta menjadi bank pilihan dan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari, keluarga dan bisnis mereka,” jelas Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank.
Acara tersebut juga dihadiri juga oleh Meliza M. Rusli, Direktur Utama Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad serta Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank.
Sepanjang 2025, Permata Bank mencatat pertumbuhan total pendapatan sebesar 3,8% menjadi Rp12,6 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan nonbunga sebesar 34,1% menjadi Rp2,6 triliun.
Dari sisi neraca, total aset bank meningkat 3,6% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp268,3 triliun. Simpanan nasabah juga tumbuh 3,9% YoY menjadi Rp192,8 triliun, didukung oleh pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 20,1% sehingga rasio CASA meningkat menjadi 63,9%.
Penyaluran kredit Permata Bank tercatat tumbuh 5,5% YoY menjadi Rp163,3 triliun. Pertumbuhan ini terutama berasal dari segmen korporasi yang meningkat 11,2% YoY menjadi Rp99,6 triliun.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 2,1%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik menjadi 6,3%. Bank juga mempertahankan tingkat pencadangan yang kuat dengan rasio NPL coverage sebesar 356% dan LAR coverage sebesar 118%.
Dari sisi likuiditas, Permata Bank mencatat rasio Loan-to-Deposit (LDR) sebesar 84,5%. Sementara itu, rasio likuiditas Basel III berada jauh di atas batas minimum, dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) rata-rata sebesar 296,5% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 126,8%.
Struktur permodalan bank juga tetap solid dengan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 34,6% dan Common Equity Tier 1 (CET-1) sebesar 26,6%.
Selain itu, Permata Bank Unit Usaha Syariah juga mencatat kinerja positif dengan laba operasional sebelum provisi sebesar Rp785,3 miliar atau tumbuh 8,1% YoY pada 2025. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan pendapatan setelah distribusi bagi hasil sebesar 6,4% YoY serta pengendalian biaya yang konsisten.
Di tengah dinamika ekonomi global, Permata Bank menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat. Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,1–5,2% pada 2026, dengan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi sebagai penopang utama pertumbuhan.