Tertekan Harga Batu Bara, Astra Bukukan Laba Bersih Rp24,7 Triliun
Tangkapan layar Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro/Iconomics
PT Astra International Tbk (Astra) mencatat penurunan laba bersih sebesar 6 persen menjadi Rp24,7 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2025, tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi di GoTo dan Hermina. Jika memperhitungkan penyesuaian nilai wajar tersebut, laba bersih Grup turun 5 persen menjadi Rp24,5 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya harga batu bara yang menekan kinerja divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi. Dalam periode yang sama, pendapatan bersih konsolidasian Grup tercatat sebesar Rp243,6 triliun, turun 1 persen dibandingkan Rp246,3 triliun pada tahun sebelumnya.
“Laba Grup selama sembilan bulan pertama tahun 2025 mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah. Kontribusi yang solid dari bisnis-bisnis lainnya turut mendukung resiliensi kinerja Grup, dan kami perkirakan kinerja tahun 2025 masih akan sejalan dengan tren kinerja Grup saat ini,” ujar Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro dalam keterangan resmi, Jumat (31/10).
Meskipun bisnis pertambangan melemah, sejumlah lini usaha lain menunjukkan pertumbuhan positif. Laba divisi jasa keuangan naik 8 persen menjadi Rp6,7 triliun, didorong oleh peningkatan pembiayaan konsumen. Divisi agribisnis mencatat pertumbuhan laba 34 persen menjadi Rp853 miliar, sementara infrastruktur naik 28 persen menjadi Rp935 miliar.
Adapun laba dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi yang dijalankan melalui PT United Tractors Tbk, anjlok 26 persen menjadi Rp7 triliun akibat harga batu bara yang lebih rendah. Penurunan ini sedikit diimbangi oleh kenaikan penjualan emas sebesar 8 persen dan lonjakan harga emas hingga 37 persen.
Kinerja divisi otomotif relatif stabil dengan kenaikan laba 1 persen menjadi Rp8,8 triliun, meski penjualan mobil nasional turun 11 persen menjadi 562.000 unit. Pangsa pasar mobil Astra turun dari 56 persen menjadi 53 persen, sementara pangsa pasar sepeda motor tetap kuat di level 77 persen.
Per 30 September 2025, nilai aset bersih per saham Astra naik 6 persen menjadi Rp5.609. Kas bersih perusahaan (tidak termasuk anak usaha jasa keuangan) meningkat menjadi Rp13,4 triliun dari Rp8 triliun di akhir 2024.
Untuk memperkuat nilai bagi pemegang saham, Astra mengumumkan program pembelian kembali saham (share buyback) dengan nilai maksimum Rp2 triliun yang akan berlangsung dari 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026. Langkah serupa juga diambil oleh United Tractors dengan nilai yang sama.
“Kami tetap fokus untuk menjaga disiplin keuangan dan keunggulan operasional, serta memanfaatkan kekuatan neraca keuangan kami untuk menangkap peluang pertumbuhan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” kata Djony.