Tumbuh 10% di 2023, Kereta Barang KAI Targetkan 68,3 Juta Ton Barang di Tahun 2024

0
115

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatatkan hasil positif untuk layanan pengangkutan barang. KAI mengangkut 63.694.966 ton barang selama 2023. Jumlah tersebut meningkat 10% dibandingkan 2022 sebanyak 58.006.880 ton barang.

“Meningkatnya angkutan barang KAI pada 2023 dikarenakan adanya peningkatan permintaan pangsa pasar terkait angkutan barang di Indonesia. Hal ini langsung dimanfaatkan oleh KAI dengan melakukan upaya penambahan perjalanan kereta api barang dari 322 perjalanan KA Barang di tahun 2022 menjadi 328 KA di tahun 2023,” kata VP Public Relations KAI, Joni Martinus dalam keterangan resminya.

KAI menyebut komoditas yang mengalami peningkatan tertinggi yaitu batu bara, naik 12% dari 45,4 juta ton menjadi 51,0 juta ton. Angkutan retail naik 9% dari 208.980 ton menjadi 228.631 ton. Tren positif pun terjadi pada komoditas lain seperti semen dan klinker, BBM, serta komoditas-komoditas lainnya.

“Kelebihan kereta api salah satunya adalah kapasitasnya yang sangat besar. Satu gerbong bisa mengangkut 50 ton atau seukuran 2 truk kontainer. Bahkan, satu rangkaian KA angkutan batu bara di Sumatera bagian selatan dapat menarik 60 gerbong atau 3.000 ton sekaligus. Jika diangkut truk butuh kurang lebih 120 truk,” kata Joni.

Baca Juga :   Kementerian BUMN Berangkatkan 15.658 Pemudik "Mudik Bersama BUMN" dengan Kereta Api

Pada 2024 ini, KAI menargetkan mengangkut 68,3 juta ton atau naik 7% dibandingkan tahun 2023. KAI melakukan inovasi-inovasi angkutan barang KAI pada tahun 2024 di antaranya konversi kereta bagasi biasa menjadi kereta bagasi berpendingin untuk distribusi hasil perikanan. KAI juga melakukan transformasi model bisnis angkutan barang KAI dari pola layanan Station to Station (S2S) menjadi End-to-End (E2E) melalui kolaborasi antar logistics player.

“KAI Group terus membangun kolaborasi sinergi BUMN pada kluster Logistik untuk operasi layanan angkutan barang E2E antarpulau dan lanjutan untuk dapat mendukung biaya logistik yang kompetitif serta mengurangi dampak eksternalitas seperti kemacetan, polusi, jalan-jalan yang rusak, serta meningkatkan daya saing global,” kata Joni.

Leave a reply

Iconomics