Kendati Bisnis Startup Terkontraksi, Amvesindo Nilai Peluang Berkembang Masih Potensial di Indonesia
Ilustrasi/kr-asia.com
Bisnis perusahaan rintisan (startup) di Indonesia sedang menghadapi situasi ekonomi global dan domestik yang berujung pada penutupan usaha. Seperti diketahui, merek ternama seperti Bukalapak pun harus menghentikan operasional produk fisik di marketplace yang sudah berlangsung lama, dan menggantinya dengan produk virtual.
Kendati situasinya begitu, Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) menilai masih ada potensi yang terbuka lebar keberlanjutan model bisnis startup di Indonesia. Amvesindo menilai terdapat pergeseran tujuan skema bisnis startup yang sempat melonjak pada era 2010 hingga 2020 itu.
Menurut Ketua Umum Amvesindo Eddi Danusaputro, dulu untuk mengukur keberhasilan suatu bisnis rintisan biasanya dengan metrik unicorn atau valuation. Namun, hal tersebut sudah tidak lagi digunakan saat ini, lantaran para pelaku usaha digital itu lebih memilih untuk menggunakan metrik profitability dan sustainability.
Kemudian, kata Eddi, asosiasi pun sudah mengeluarkan peta kematangan (maturation map) yang bertujuan untuk memberikan rekomendasi, dan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai praktik tata kelola. Peta kematangan pun memiliki panduan tata kelola yang dirancang untuk meningkatkan standar transparansi, dan akuntabilitas dalam ekosistem startup.
“Perlu fokus ke path to profitability, sustainability, dan governance. Bahkan asosiasi terbitkan maturation map,” kata Eddi kepada wartawan The Iconomics pada Jumat (6/6).
Sedangkan dari sisi pendanaan, kata Eddi, walau tercatat menurun, Amvesindo masih melihat ada pihak-pihak yang memberikan venture capital (VC) kepada startup. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2025, pembiayaan perusahaan modal ventura mengalami kontraksi sebesar 0,34% secara tahunan (yoy).
“Masih ada pendanaan namun data menunjukkan penurunan secara yoy. Yang lebih bergeliat memang early dan growth stages karena ticket size relatif kecil dibandingkan late stages,” ujar Eddi.
Soal isu akuisisi sejumlah perusahaan startup di Indonesia, kata Eddi, merger merupakan hal yang diperlukan oleh suatu entitas untuk memperkuat bisnisnya. Terlebih untuk menggerakkan bisnis startup membutuhkan modal yang cukup kuat untuk memastikan tata kelola perusahaan yang baik.
“Exit itu memang diperlukan di industri, baik dari IPO, merger and acquisitions (M&A) maupun secondary. Karena investor senantiasa butuh pasar exit yang sehat,” tambah Eddi.
Sementara itu, sesuai laporan Oxford Business Group (OBG) berjudul The Report: Indonesia 2024, menyebut pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia selaras dengan peningkatan investasi ekuitas swasta dan modal ventura. Dan hal itu turut memicu aksi penggabungan perusahaan startup dan akuisisi yang dinilai cukup signifikan terjadi.
Managing Editor for The Middle East and Asia OBG Patrick Cooke mengatakan, Indonesia memiliki daya tarik yang tinggi bagi investor untuk mencari peluang di pasar yang berkembang dan dinamis.
“Indonesia semakin menonjol sebagai tujuan investasi, khususnya di sektor teknologi, infrastruktur, dan pariwisata. Indonesia kini memprioritaskan inovasi dan memperkuat kemitraan regional yang pada akhirnya menghadirkan prospek menarik bagi para investor global,” kata Patrick pada Oktober tahun lalu.