Dirut Pertamina Hulu Energi Ungkap Bidik Dana US$1,5 Miliar dari IPO

0
433

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Subholding Upstream membidik dana super jumbo dari rencana Intitial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur Utama (Dirut) PHE, Wiko Migantoro mengungkapkan pihaknya membidik dana US$1,5 miliar dari rencana IPO tersebut atau sekitar Rp22,5 triliun (kurs:15 ribu).

Hal itu disampaikan Wiko menjawab pertanyaan Ramson Siagian, anggota Komisi VII DPR RI dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), Senin (10/4).

Mulanya anggota DPR RI Fraksi Gerindra itu menanyakan kinerja keuangan PHE pada tahun 2022 lalu. Menjawab pertanyaan terkait kinerja keuangan ini, Wiko mengungkapkan tahun 2022 lalu, pendapatan PHE mencapai sekitar US$16 miliar.

“Laba bersihnya belum closing Pak,” ujar Wiko menambahkan ketika ditanya lebih jauh.

“(laba bersih) yang belum diaudit berapa?” Tanya Ramson. “US$4,6 miliar,” jawab Wiko.

Ramson kemudian menananyakan rencana IPO PHE. Ia mengatakan berdasarkan informasi di media valuasi PHE sebesar Rp9 triliun.

“Tidak benar pak,” jawab Wiko ketika dikonfirmasi oleh Ramson.

Baca Juga :   Setelah Pertamina Geothermal Energy, Nanti akan Ada Lagi IPO Jumbo dari BUMN

“Kok bisa terekspose Rp9 triliun?” tanya Ramson.

“Kami kurang tahu pak,” jawab Wiko.

Ramson kemudian bertanya lebih lanjut mengenai target dana yang diperoleh dari rencana IPO PHE. Menjawab pertanyaan terkait hal itu, Wiko mengatakan berdasarkan aturan OJK, minimal jumlah saham yang dilepaskan ke publik sebesar 10% dari valuasi perusahaan.

“Kira-kira berapa triliun? Katanya 15%? Targetnya berapa triliun dapat dana segar?” tanya Ramson.

“US$1,5 miliar Pak,” jawab Wiko.

Sebelumnya Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan rencana IPO PT Pertamina Hulu Energi (PHE) saat ini masih menunggu laporan keuangan kuartal keempat tahun 2022.

Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi. Menurut Inarno, IPO PHE ditunda karena ada penyesuaian laporan keuangan yang akan digunakan dalam IPO ini.

“Sebelumnya sudah memasukan [pendaftaran ke OJK], tetapi melakukan penundaan, kalau tidak salah pada saat itu dengan memakai laporan keuangan bulan Juni, akhirnya akan memakai laporan keuangan bulan Desember dan ditargetkan akan menyampaikan kembali pada bulan Maret 2023,” ujar Inarno.

Baca Juga :   Belum Ada Kepastian, OJK Sebut IPO Pertamina Hulu Energi Masih Ditelaah

Dalam paparannya di Komisi VII DPR RI, Wiko Migantoro menyampaikan sebagai subholding upstream, PHE membawahi lima regional, yaitu 4 di domestik dan satu di internasional.

Di regional Sumatera terdapat Pertamina Hulu Rokan (PHR). Kemudian di Jawa bagian barat ada Pertamina EP (PEP), di Kaliamantan ada Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dan di Jawa bagian timur ada PT Pertamina EP Cepu (PEPC).

Sementara untuk mengelola aset internasional, ada Pertamina Internasional EP yang mengelola aset di Aljazair, Irak, Malaysia, dan juga partisipasi saham 71% di perusahaan Prancis Maurel & Prom (M&P) yang memiliki lapangan migas di Afrika sampai Amerika Selatan.

PHE juga memiliki anak usaha di bidang driling yaitu PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), kemudian ada juga PT Elnusa Tbk di bidang upstream dan downstream services. Selain itu, PHE juga memilkiki PT Badak LNG sebagai perusahaan pencairan gas.

Wiko mengatakan secara operasional, pada tahun 2022, PHE berkontribusi 68% terhadap lifting minyak nasional dan 33% lifting gas nasional.

Baca Juga :   Rencana IPO PGE dan PHE Dipertanyakan, Begini Jawaban Dirut Pertamina

Tahun 2023 ini, PHE menargetkan produksi minyak sebesar 595 ribu barel per hari atau naik 5% dibandingkan realisasi tahun lalu. “Sampai dengan triwulan satu 2023, produksi yang kita capai adalah 575 ribu barel oil per day atau 2% di atas target year to date, dimana kontribusinya 424 ribu barel oil per day berasal dari produksi domestik dan 151 ribu barel oil per day berasal dari produksi internasional,” ujar Wiko.

 

Leave a reply

Iconomics