Empat Saham Indonesia Terdepak dari Indeks Global FTSE, Sorotan Tertuju pada Free Float dan Struktur Kepemilikan

Empat emiten yang dikeluarkan dari indeks FTSE GEIS yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA).
0
43

Lembaga penyedia indeks global FTSE Russell mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dalam hasil June 2026 Quarterly Review. Langkah ini mempertegas perhatian FTSE terhadap kualitas free float, konsentrasi kepemilikan saham, hingga pengawasan perdagangan di pasar modal Indonesia.

Keputusan tersebut diumumkan pada Sabtu (23/5) dan akan efektif berlaku mulai 22 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan 19 Juni 2026.

Empat emiten yang dikeluarkan dari indeks FTSE GEIS yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA).

FTSE Russell menilai DSSA gagal memenuhi ketentuan terkait konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration (HSC). Dalam pengumuman, FTSE menyebut saham DSSA mengalami “Failed High Shareholding Concentration”.

DSSA merupakan emiten Grup Sinar Mas yang bergerak di sektor pertambangan, energi baru terbarukan, teknologi, hingga bahan kimia.

Sementara itu, DAAZ dikeluarkan dari kategori micro cap karena tidak memenuhi batas minimal free float atau saham beredar publik. FTSE Russell mencatat saham perusahaan perdagangan nikel dan batu bara tersebut mengalami “Failed Minimum Free Float Requirement”.

Baca Juga :   RUPST 2025 Bukit Asam Setujui Bagikan Dividen Tunai Rp 1,32 T

Adapun HILL dan MLIA dikeluarkan karena masuk dalam screening pengawasan saham atau surveillance stocks screen. Kedua saham tersebut dinilai tidak memenuhi kriteria kelayakan indeks akibat status pemantauan khusus di bursa.

Review FTSE GEIS selama ini menjadi perhatian pelaku pasar karena indeks tersebut digunakan oleh berbagai manajer investasi global, dana pensiun, hingga exchange traded fund (ETF) internasional sebagai acuan investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Keluarnya saham dari indeks global umumnya berpotensi memicu penyesuaian portofolio investor pasif, terutama fund manager yang mengikuti komposisi indeks FTSE. Dampaknya dapat terlihat pada likuiditas perdagangan, aliran dana asing, hingga sentimen jangka pendek terhadap saham terkait.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics