Pasar Prediksi Fed Tahan Suku Bunga, Bank Mandiri Proyeksikan Ruang Penurunan BI Rate Menyempit

Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi domestik. Bank Mandiri pun merevisi proyeksi inflasi akhir 2026 menjadi sekitar 3,5 persen dari sebelumnya 2,98 persen, dipicu penyesuaian harga BBM non-subsidi dan LPG serta potensi dampak El Nino.
0
52

Bank Mandiri memproyeksikan ruang penurunan BI Rate kian terbatas sejalan dengan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan tekanan inflasi dunia.

Chief Economist Andry Asmoro mengatakan pada 2025 lalu pasar masih meyakini bahwa tren penurunan suku bunga acuan  akan berlanjut hingga 2026 dan diteruskan pada 2027. Menurut dia, jika mengacu pada guidance The Fed saat itu, bank sentral Amerika Serikat masih membuka ruang untuk memangkas suku bunga acuan setidaknya satu kali sepanjang 2026.

“Namun, kalau lihat dari CME FedWatch, market memperkirakan bahwa tidak ada lagi pemangkasan suku bunga acuan. Tahun 2027 juga sama,” ujarnya pada Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin (11/5).

Andry menjelaskan siklus kebijakan moneter global mengalami perubahan cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, pasar menghadapi era “higher for longer”, ketika suku bunga tinggi diperkirakan bertahan lebih lama. Kondisi itu kemudian berubah pada 2025 menjadi fase “how low can you go”, seiring agresifnya pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Baca Juga :   Januari-Februari 2026, Laba Bersih Bank Mandiri Tumbuh 16,7%

Namun, ekspektasi bahwa tren pelonggaran moneter tersebut akan berlanjut pada 2026 kini mulai memudar. Menurut Andry, peluang The Fed kembali memangkas suku bunga acuan pada tahun depan menjadi sangat kecil.

Andry menjelaskan, perubahan ekspektasi tersebut dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta ancaman stagflasi global.

“Kita masih melihat adanya potensi stagflasi, dimana walaupun ekonomi melambat, tapi inflasi juga belum kunjung turun, karena ada faktor sebelumnya yaitu kenaikan tarif yang dilakukan oleh Trump dan saat ini adalah perang,” ujar Asmo, sapaannya.

Pada kesempatan yang sama, Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina mengatakan di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik dan tingginya suku bunga Amerika Serikat ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) pada tahun 2026 juga semakin terbatas.

Dalam paparan ia mengatakan kondisi global saat ini membuat pasar keuangan bergerak sangat volatil, mulai dari kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, hingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Baca Juga :   Bank Mandiri Genjot Kepemilikan Kendaraan Listrik Melalui Kopra dan Livin’

“Mungkin ruang penurunan suku bunga BI rate itu akan lebih terbatas, sejalan juga dengan ruang penurunan Fed Fund Rate. Konsensus pasar terkait Fed Fund Rate melihat Fed Fund Rate akan stay sampai tahun 2027,” ujarnya.

Dian menjelaskan tekanan global yang terutama dipicu konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong ketidakpastian tinggi di pasar keuangan dunia. Kondisi itu turut memengaruhi pasar domestik, mulai dari pasar saham, obligasi, hingga nilai tukar rupiah.

Hingga saat ini, rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 3,9 persen secara year-to-date. Sementara harga minyak dunia rata-rata mencapai 82 dolar AS per barel, melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel.

Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi domestik. Bank Mandiri pun merevisi proyeksi inflasi akhir 2026 menjadi sekitar 3,5 persen dari sebelumnya 2,98 persen, dipicu penyesuaian harga BBM non-subsidi dan LPG serta potensi dampak El Nino.

Meski demikian, Dian menilai kondisi ekonomi Indonesia masih cukup resilien. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,6 persen, didorong konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Secara keseluruhan, pada 2026 ini Bank Mandiri memperkirakan ekonomi Indonensia dapat tumbuh 5,2 persen.

Baca Juga :   Bank Mandiri Dukung Kemenko Pangan dalam Penguatan Kapasitas Koperasi Merah Putih

“Kita melihat ada peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di kisaran 5,1 sampai 5,5 persen pada kuartal kedua tahun 2026 ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah ruang pelonggaran moneter yang semakin terbatas, kebijakan fiskal dan makroprudensial yang akomodatif diharapkan tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics