Pendapatan dan Laba Bersih United Tractors Merosot di Kuartal I-2026, Simak Penyebabnya

0
48

PT United Tractors Tbk membukukan pendapatan bersih sebesar Rp28,6 triliun pada kuartal I tahun 2026. Pendapatan tersebut turun sebesar 17% dari Rp34,3 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.

Demikian juga dengan laba bersih yang dihimpun juga lebih kecil dibandingkan kuartal I tahun 2025. Laba bersih kuartal I-2026 hanya Rp643 miliar atau turun 80% dibandingkan laba bersih kuartal I-2025 yang sebesar Rp3,19 triliun.

Corporate Secretary United Tractors, Ari Setiyawan menyampaikan penurunan pendapatan bersih terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources karena tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan sebagai dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026.

Sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, terutama disebabkan oleh harga rata – rata batu bara yang lebih tinggi.

Perseroan menyampaikan pendapatan bersih tersebut terutama berasal dari segmen Kontraktor Penambangan sebesar Rp11,9 triliun. Nilai tersebut 6% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu

Baca Juga :   Asuransi Astra Tetap Siaga di Masa Lebaran 2023

Adapun kontribusi dari segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi sebesar Rp8,0 triliun. Nilai tersebut 13% lebih tinggi dari periode yang sama di tahun lalu.

Kontribusi segmen Mesin Konstruksi sebesar Rp7,5 triliun. Nilai tersebut 31% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu.

Kontribusi segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya sebesar Rp691,6 miliar. Nilai tersebut 76% lebih rendah dari periode yang sama di tahun lalu.

Perseroan menyampaikan bahwa laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring charges turun 44% menjadi Rp1,8 triliun, terutama karena tidak adanya penjualan emas dari PT Agincourt Resources dan pendapatan yang lebih rendah yang sebagian besar mencerminkan dampak dari penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026.

Selama kuartal pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring charges senilai Rp1,2 triliun, terutama terdiri dari pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate; dan provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Leave a reply

Iconomics