Rumor Pergantian Menteri Keuangan Mereda, Rupiah dan IHSG Menguat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa, (9/6) dinilai berkaitan dengan meredanya spekulasi mengenai reshuffle kabinet, khususnya isu pergantian Menteri Keuangan yang sempat beredar.
IHSG ditutup menguat 5,57% ke level 5.746,64 pada hari ini, setelah sehari sebelumnya melemah 4,52%.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, mengacu pada data JISDOR Bank Indonesia, berada pada level 18.141, dari sebelumnya 18.171.
Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan pasar merespons positif setelah muncul penegasan bahwa rumor pergantian Menteri Keuangan tersebut tidak benar.
Menurut Aditya, berkurangnya ketidakpastian politik menjadi salah satu faktor yang membantu memperbaiki sentimen investor. Pasar keuangan pada umumnya tidak menyukai ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintah.
“Rumor pergantian menteri keuangan sempat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Ketika isu itu dibantah, sebagian investor kembali percaya bahwa tidak akan ada perubahan mendadak pada kebijakan ekonomi,” kata Aditya, Selasa (9/6).
Ia menjelaskan, investor juga menaruh perhatian pada kesinambungan kebijakan ekonomi. Koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dinilai penting dalam menjaga stabilitas rupiah serta pasar obligasi.
Dengan tidak adanya pergantian mendadak di posisi strategis tersebut, pasar melihat peluang kebijakan ekonomi dapat berjalan lebih konsisten sehingga meningkatkan kepercayaan investor.
Selain faktor tersebut, penguatan pasar juga dipengaruhi oleh aksi beli setelah tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Sehari sebelumnya, IHSG mengalami penurunan cukup tajam, sementara nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar AS. Ketika sentimen negatif mulai mereda, sebagian investor memanfaatkan kondisi harga saham yang telah turun untuk melakukan aksi beli (buy on weakness).
Langkah tersebut kemudian membantu mendorong rebound IHSG dan penguatan rupiah.
Meski demikian, Aditya mengingatkan bahwa penguatan IHSG dan rupiah tidak dapat dikaitkan semata-mata dengan meredanya rumor reshuffle kabinet.
Menurutnya, pergerakan pasar keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, sentimen terhadap dolar AS, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
“Meredanya rumor reshuffle kemungkinan menjadi salah satu katalis positif yang mengurangi kepanikan pasar. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan penguatan IHSG dan rupiah pada hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menilai sentimen stabilitas kebijakan turut menopang kepercayaan pasar. Menurutnya, penguatan IHSG tidak lepas dari persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas kebijakan fiskal nasional.
“Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi,” ujar Esther.
Ia menjelaskan bahwa untuk menarik aliran modal masuk, Indonesia harus memenuhi sejumlah syarat mendasar yang menjadi pertimbangan investor global.
Pertama, kepastian hukum untuk berbisnis di Indonesia. Kedua, prospek ekonomi pasar yang baik. Ketiga, ketersediaan bahan baku yang memadai.
“Keempat, ekosistem yang mendukung. Kelima, integrasi rantai pasok global. Keenam, ketersediaan infrastruktur energi, listrik, air dan lainnya yang baik. Ketujuh, harmonisasi peraturan antar instansi baik pusat maupun daerah,” paparnya.
Esther menegaskan bahwa stabilitas di level kementerian memberikan sinyal positif bagi investor karena dapat mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek.
Menurutnya, apabila ketujuh faktor tersebut dapat dipenuhi, aliran modal asing akan lebih mudah masuk ke Indonesia sehingga dapat memperkuat nilai tukar rupiah sekaligus mendukung kinerja pasar modal domestik.