Triwulan II 2023, BRI Group Raup Laba Rp29,56 Triliun, Tumbuh 18,83% YoY

0
295

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan entitas anak (BRI Group) mempertahankan kinerja keuangan yang sehat hingga triwulan II 2023 ini. Kinerja yang baik ini ditopang antara lain pertumbuhan kredit mikro dan Current Account Saving Account (CASA) yang memadai.

Kualitas aset juga terjaga dengan rasio efisiensi yang membaik, proporsi fee base income yang terus tumbuh kosnisten serta semakin solidnya kinerja perusahaan anak yang tergabung dalam BRI Group.

Sampai akhir Juni 2023 BRI Group berhasil mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 9,21% year on year (YoY) menjadi Rp1.805,15 triliun. Pertumbuhan aset ini diikuti perolehan laba senilai Rp29,56 triliun atau tumbuh 18,83% YoY.

Dari sisi penyaluran kredit sampai akhir triwulan II 2023, BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp1.202,13 triliun, dengan penompang utama adalah pertumbuhan pada segmen mikro yang tumbuh 11,41% YoY menjadi Rp577,94 triliun. Dengan demikian porsi kredit mikro telah mencapai 48,08% terhadap total penyaluran kredit BRI.

Penyaluran kredit mikro yang tumbuh dobel digit ini membuat porsi kredit UMKM BRI juga terus meningkat. Hingga Juni 2023, porsi kredit UMKM BRI menapai 84,48% dari total kredit BRI dengan total nilainya mencapai Rp1.015,54 triliun.

Baca Juga :   BRI Minta Kelonggaran, OJK Masih Ogah Menaikkan Ketentuan BMPK

“Dengan demikian aspirasi BRI untuk mencapai porsi kredit UMKM 85% sesungguhnya tinggal 0,52% saja. Padahal aspirasi itu kita pingin capai nanti di tahun 2025 dan sekarang di 2023 semester pertama porsi kredit UMKM kita sudah mencapai 84,48% dari total kredit BRI,” ujar Sunarso, Direktur Utama BRI dalam konferensi pers, Rabu (30/8).

Khusus untuk perkembangan holding ultra mikro (UMi), Sunarso menyampaikan, sampai Juni 2023, holding UMi telah berhasil mengintegrasikan lebih dari 36 juta nasabah peminjam atau debitur dan 162 juta nasabah simpanan mikro. Pencapaian tersebut didukung oleh 1.013 unit kantor co-location atau Senyum (sentra layanan ultra mikro) yang dipakai bersama oleh BRI, Pegadaian dan PNM.

Kemapuan BRI untuk menyalurkan kredit juga diimbangi oleh kemampuan BRI untuk menjaga kulitas kredit yang disalurkan. Non Performing Loan (NPL) BRI pada akhir Juni 2023 sebesar 2,95%, membaik jika dibandingkan dengan NPL pada Juni 2022 yaitu 3,26%.

“Angka NPL 2,95% untuk bank yang main di UMKM menurut saya ini menunjukkan kemampuan kita me-manage portofolio UMKM dengan baik, karena masih di bawah 3%. Bahkan di bawah 5% saya katakan masih oke untuk bank yang fokusnya kepada UMKM,” ujar Sunarso.

Baca Juga :   BRI akan Bagi Dividen Rp231,2 per Saham, Catat Jadwalnya

Penurunan NPL ini membuat credit cost BRI menurun dari semula 3,11% pada triwulan II 2022 menjadi 2,26% pada triwulan II 2023 ini. Sunarso mengatakan keberhasilan BRI mengelola NPL tetap diimbangi dengan melakukan pencadangan yang memadai. Sampai Juni 2023 pencadangan BRI mencapai 248,54%.

“Ini menurut saya cadangan yang lebih dari cukup karena lebih dari dua kali NPL kita itu sudah kita sediakan cadangannya,” ujar Sunarso.

Dana masyarakat

Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, BRI mencatatan total dana masyarakat sebesar Rp1.245,12 triliun. Penopang utama pertumbuhan dana masyarakat bersumber pada dana murah atau CASA yang tercatat tumbuh 10,13% YoY menjadi Rp815,42 triliun. Porsi CASA – giro dan tambungan – di dalam total dana masyarakat yang dihimpun BRI itu naik dari 65,12% pada triwulan II 2022 menjadi 65,49% pada triwulan II 2023.

Sunarso mengatakan transformasi digital yang dilakuka BRI tidak hanya memberikan dampak dari sisi efisiensi tetapi juga memberikan dampak secara signifikan terhadap pencapaian fee base income. Hingga akhir Juni 2023, fee base income BRI Group tumbuh 9,14% YoY menjadi Rp10,22 triliun.

Baca Juga :   Realisasi Relaksasi Kredit BRI untuk UMKM karena Covid-19 Capai 14,9 T

Sunarso mengatakan BRI masih memiliki prospek pertumbuhan ke depan, dengan  didukung oleh likuiditas dan permodalan yang memadai. Hal tersebut tercermin dari rasio loan to deposit ratio BRI mencapai 87,26% dan CAR sebesar 26,65%.

“Permodalan kita sangat cukup, likuiditas kita juga cukup untuk mendorong pertumbuhan BRI,”ujar Sunarso.

Leave a reply

Iconomics