5 Poin Penting yang Harus Dipegang Leader
Ada lima pelajaran kepemimpinan yang dibagikan Widyo Rulyantoko, Head of Asia Pacific Business Admin Group Hyundai Motor. Lima pelajaran penting tersebut relevan bagi perusahaan yang ingin membangun organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan berdaya saing.
Pertama, pemimpin perlu memastikan tim bertarung melawan kompetitor, bukan sesama rekan kerja. Dalam organisasi lintas fungsi dan lintas negara, perbedaan cara kerja sering kali berpotensi memunculkan gesekan internal. Widyo menekankan bahwa pemimpin perlu terus mengingatkan tim bahwa “pertarungan” yang sesungguhnya ada di luar perusahaan, yaitu menghadapi perubahan pasar dan kompetitor. Dengan begitu, energi tim dapat diarahkan untuk tujuan bisnis yang lebih besar, bukan habis dalam konflik internal.
Kedua, kepemimpinan yang efektif harus mampu menjembatani perbedaan budaya. Bekerja dalam lingkungan regional maupun global menuntut pemimpin untuk piawai membaca konteks budaya. Widyo menyoroti pentingnya menemukan common ground di tengah perbedaan gaya kerja, prioritas, dan ekspektasi antarnegara. Menurutnya, keterbukaan, kemampuan bernegosiasi, dan pemahaman terhadap prioritas bersama menjadi kunci agar kolaborasi lintas budaya berjalan efektif.
Ketiga, gen Z perlu dipimpin dengan “purpose” yang jelas, bukan sekadar instruksi. Widyo menilai bahwa generasi muda, termasuk Gen Z, perlu memahami alasan di balik sebuah pekerjaan, bukan hanya menerima arahan teknis. Karena itu, pemimpin perlu memberikan konteks, tujuan, dan dampak dari pekerjaan yang dilakukan, lalu memberi ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi cara terbaik dalam mengeksekusinya. Pendekatan ini dapat membantu organisasi mendorong inovasi sekaligus membangun rasa kepemilikan yang lebih kuat.
Keempat, HR perlu diposisikan sebagai business leader, bukan hanya fungsi administratif. Dalam pandangan Widyo, peran HR tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada administrasi atau operasional SDM. HR perlu hadir sebagai business leader yang memahami strategi perusahaan, mengelola organisasi, menyiapkan talenta, dan membangun budaya kerja yang mendukung keberlanjutan bisnis. Pergeseran cara pandang ini menjadi semakin penting ketika perusahaan menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks.
Kelima, empati tetap menjadi fondasi penting saat organisasi menghadapi masa transisi. Di tengah tekanan bisnis dan perubahan organisasi, Widyo menekankan bahwa keputusan sulit tetap perlu dijalankan dengan empati. Bagi pemimpin HR, menjaga martabat, komunikasi, dan kemanusiaan dalam setiap proses transisi menjadi hal yang tidak kalah penting dari aspek bisnis itu sendiri. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat bukan hanya soal ketegasan, tetapi juga soal kemampuan memanusiakan orang dalam situasi yang tidak mudah.
“Buat saya, kepemimpinan hari ini bukan hanya soal mengarahkan tim untuk mencapai target, tetapi juga bagaimana kita membangun titik temu di tengah perbedaan budaya, generasi, dan cara kerja. Pemimpin perlu memastikan energi organisasi tetap fokus ke luar, ke tantangan bisnis dan kompetitor, sambil tetap menjaga empati terhadap orang-orang di dalamnya,” ungkap Widyo.