Arsjad Rasjid Sebut “3G” untuk Memacu Pertumbuhan Ekonomi
Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid saat Meet the Leaders di Universitas Paramadina/Dok. Universitas Paramadina
Tantangan ekonomi Indonesia semakin kompleks. Fokus pertumbuhan ekonomi nasional adalah satu hal, tapi masih banyak lagi hal yang lainnya menjadi pekerjaan rumah untuk mencapai pertumbuhan tersebut.
Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid menekankan pendekatan 3G: Grow People, Gear Up Industry, dan Go Green sebagai pilar utama strategi pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.
“Situasi internasional sedang berubah, yang memberikan dampak secara tidak langsung kepada Indonesia, khususnya di bidang ekonomi. Peristiwa di Timur Tengah, Trump Effect, perang Ukraina–Rusia, membuat semuanya bergerak ke arah perubahan,” kata Arsjad dalam sebuah forum yang digelar Universitas Paramadina.
Bahkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang selama ini stabil pun mulai melambat.
Arsjad menekankan bahwa persoalan mendasar Indonesia saat ini bukan sekadar pertumbuhan ekonomi.
“Fokus saat ini yang harus diperhatikan serius bukan hanya soal economic growth yang hanya 4,7 persenan, tapi adalah daya beli masyarakat yang terus menurun. Masyarakat bisa dikatakan tidak punya uang saat ini. Karena itu daya beli turun,” kata Arsjad.
Persoalan ketenagakerjaan pun menjadi sorotan. Meskipun tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan, jumlah pengangguran justru meningkat menjadi lebih dari 7,28 juta orang.
“Yang lebih memprihatikan lagi adalah fakta bahwa hampir 60% angkatan kerja kita masih berada di sektor informal,” kata Arsjad. Menurutnya, hal ini mencerminkan rapuhnya struktur ekonomi dan lemahnya penciptaan lapangan kerja formal.
Menurut Arsjad, saat ini di Indonesia hanya ada dua sumber pendapatan masyarakat, pedagang yang mendapat laba dari usahanya, dan kedua, pekerja yang mendapat upah, bonus, dan lain-lain. Menurutnya, jika dua sumber itu tidak lagi ada, maka growth economy tidak akan ada lagi, pasti menurun tajam.
Lantas bagaimana dengan investasi. Ia mengatakan bahwa investasi yang selama ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja justru lebih bersifat padat modal dibanding padat karya. Di sisi lain, iklim investasi di Indonesia masih dihadapkan pada banyak hambatan.
“Untuk menciptakan investasi, baik investasi kecil ataupun besar, tantangannya banyak sekali. Mulai dari soal tanah, preman, permitt, izin-izin dan segala macam persoalan,” katanya.
Fenomena lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya migrasi tenaga kerja terampil ke luar negeri. Dari perawat, ahli IT hingga insinyur, banyak yang memilih bekerja di negara lain.
“Pastinya mereka bukan tidak cinta negara ini, tapi di luar negeri upah yang diterima bisa 5–8 kali lebih besar dari jumlah upah di dalam negeri. Career path dan akses ke jaminan sosial yang lebih baik.
Ia memberikan peringatan keras bahwa bonus demografi Indonesia yang kerap dijadikan harapan besar justru bisa menjadi bencana jika tidak ditangani dengan serius.
“Bonus demografi Indonesia yang digadang-gadang menyediakan jumlah tenaga kerja produktif sampai 70% akan menjadi malapetaka jika tidak diperhatikan serius. Di mana tenaga produktivitas banyak, tapi lapangan pekerjaan tidak ada. Itulah PR utama Indonesia sekarang,” katanya.
Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, Arsjad memperkenalkan pendekatan 3G: Grow People, Gear Up Industry, dan Go Green.
“Grow People diartikan sebagai membangun manusia Indonesia sebagai talenta global – bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk memimpin dan berinovasi,” kata Arsjad. Realitas saat ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil tenaga kerja Indonesia yang berlatar belakang pendidikan tinggi.
Adapun Gear Up Industry adalah mendorong reindustrialisasi berbasis nilai tambah dan pemerataan sebagai motor pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, strategi ini mencakup hilirisasi mineral dan manufaktur strategis, reindustrialisasi yang bisa memberi tambahan hingga US$25 miliar ke PDB, serta perluasan industri ke luar Pulau Jawa dengan pelibatan aktif UMKM.
Adapun aspek Go Green menekankan transisi energi sebagai peluang pembangunan. Ia mengatakan Go Green adalah menjadikan transisi energi sebagai peluang pertumbuhan ekonomi baru.