Pebisnis Emas dan Perhiasan Minta Dukungan Pemerintah, Inilah Beberapa Masukannya
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Selasa (31/03), melakukan kunjungan ke PT Untung Bersama Sejahtera (UBS)/Dok. Ekon
Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem emas nasional sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan sektor eksternal dan meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri di tengah volatilitas harga emas dan tensi geopolitik.
Industri ini tidak hanya berorientasi ekspor dengan daya saing desain yang telah diakui di pasar internasional, tetapi juga menjadi salah satu sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan, khususnya generasi muda berbakat di bidang desain dan produksi.
Karakteristik industri ini juga memiliki keunikan karena mengombinasikan teknologi manufaktur moderen yaitu otomasi dan desain digital dengan keterampilan craftsmanship yang membutuhkan ketelitian dan kreativitas tinggi, sehingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan secara langsung meninjau proses produksi perhiasan PT Untung Bersama Sejahtera (UBS). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah dalam memastikan kesinambungan rantai pasok emas nasional, mulai dari sisi hulu hingga hilir, termasuk integrasinya dengan kegiatan usaha bullion.
Direktur PT UBS sekaligus Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI), Eddy Yahya menyampaikan apresiasi terhadap berbagai kebijakan Pemerintah, termasuk implementasi Bea Keluar emas yang dinilai memberikan dukungan terhadap penguatan industri dalam negeri. Di sisi lain, APPI juga menyampaikan sejumlah masukan strategis kepada Pemerintah, khususnya dalam rangka penyempurnaan kebijakan perpajakan dan penguatan struktur pasar emas domestik.
Pemerintah menyambut baik berbagai masukan tersebut sebagai bagian dari upaya bersama untuk menciptakan sistem perpajakan yang lebih efisien, mendukung iklim usaha, serta memperkuat daya saing industri perhiasan nasional secara berkelanjutan.
Deputi Ferry juga menyoroti dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi kinerja perdagangan industri perhiasan. Menanggapi hal tersebut, Eddy menyampaikan bahwa tekanan tersebut antara lain tercermin pada terhambatnya ekspor ke Dubai sebagai salah satu pasar utama.
Namun demikian, pelaku industri tetap memandang prospek permintaan dalam jangka menengah secara positif. Eddy menambahkan bahwa budaya menabung dan berinvestasi emas di Indonesia telah mengakar kuat, serupa dengan di India. Sehingga mereka optimistis permintaan akan kembali membaik seiring dengan normalisasi kondisi pasar.
Eddy juga menekankan pentingnya penguatan sisi pasokan dalam negeri melalui pengembangan kegiatan usaha bullion.
“Kami berharap kegiatan usaha bullion dapat mendukung ketersediaan bahan baku emas yang lebih efisien dan kompetitif bagi industri,” kata Eddy.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem emas nasional secara terintegrasi. Ferry mengatakan bahwa pemerintah akan terus mengkonsolidasikan kesinambungan hulu hingga hilir, sehingga daya saing ekosistem emas secara keseluruhan dapat terus ditingkatkan.