Perusahaan AS Khawatir dengan Kenaikan Harga Minyak Dunia
Ilustrasi produksi minyak/moneycontrol.com
Investor khawatir melonjaknya harga minyak mentah lantaran perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah. Perang tersebut akan berdampak kepada biaya produksi perusahaan AS karena naiknya biaya energi.
Pengamat dari Wells Fargo Investment Institute John LaForge mengatakan, kenaikan harga minyak ini tentu saja memberi keuntungan bagi perusahaan energi. Sementara sektor lain justru berdampak negatif karena biaya produksi dan pengiriman barangnya akan meningkat ketika harga bahan bakar meningkat.
Karena itu sebagaimana yang dilaporkan Channel News Asia pada Rabu (8/1) dengan mengutip Reuters, investor umumnya khawatir dengan meningkatnya harga minyak itu. “Harga minyak memang belum begitu mahal, tapi agak lebih mahal ketika perusahaan membuat anggaran mereka tahun lalu,” kata LaFoge.
“Mereka (perusahaan) mungkin memiliki kemampuan untuk terus berproduksi, tetapi secara keseluruhan (harga minyak naik) akan berdampak kepada keuntungan.”
Harga minyak dunia saat ini berada di level US$ 70 per barel. Harga ini disebut tentu saja tidak membuat AS mengalami resesi. Biaya energi yang meningkat hanya membuat investor dan perusahaan khawatir.
Konflik antara AS dan Iran meningkat setelah pada Rabu (8/1) pagi serangan rudal Iran menghantam pangkalan militer AS di Irak. Serangan ini berdampak kepada naiknya harga minyak mentah dunia. Akan tetapi, AS sebagai produsen utama minyak dunia akan menjaga harga tetap berada di bawah US$ 75 per barel.