WSBP Ekspansi ke Bisnis Sewa Plant, Optimalkan Aset dan Tambah Sumber Pendapatan
Ilustrasi PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP)/Foto: WSBP
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) menambah lini bisnis baru sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha. Perseroan berencana menambah kegiatan usaha berupa jasa sewa plant atau penyewaan mesin dan peralatan industri.
Langkah ekspansi ini dilakukan melalui penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 77391 yang mencakup penyewaan dan sewa guna usaha mesin serta peralatan industri tanpa operator. Rencana tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 22 Mei 2026.
Ekspansi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan Perseroan untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset yang belum digunakan secara maksimal, khususnya plant yang tidak aktif. Melalui skema penyewaan kepada pihak eksternal, aset tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi.
Selain itu, langkah ini juga membuka peluang peningkatan pendapatan usaha dari sumber yang lebih beragam. Di saat yang sama, inisiatif ini diarahkan untuk menekan beban biaya tetap, terutama dari plant yang selama ini belum memberikan kontribusi optimal (non-contributing plant), sehingga efisiensi operasional dapat ditingkatkan.
“Perseroan diharapkan dapat meningkatkan diversifikasi kegiatan usaha serta memperkuat posisi Perseroan pada industri manufaktur beton dan konstruksi,” tulis manajemen WSBP dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Kamis (16/4).
Berdasarkan studi kelayakan, rencana penyewaan plant idle dinilai memiliki prospek yang baik dari sisi pasar. Skema ini dinilai mampu menjangkau berbagai sektor industri yang membutuhkan fasilitas produksi berskala besar, dengan potensi pendapatan yang relatif stabil serta risiko yang dapat dikelola.
Dari sisi teknis, WSBP dinilai memiliki kesiapan yang memadai. Plant idle yang tersebar di Klaten, Kalijati, Cibitung, dan Sadang didukung infrastruktur yang lengkap serta fleksibilitas fungsi yang tinggi. Fasilitas seperti workshop, stockyard, gudang, dan sarana pendukung lainnya memungkinkan pemanfaatan untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari manufaktur, logistik, hingga staging proyek.
Model bisnis sewa plant ini dinilai layak dijalankan melalui skema industrial leasing, yang ditopang oleh lokasi strategis, fasilitas yang memadai, serta fleksibilitas penggunaan lintas sektor. Skema ini juga memungkinkan monetisasi aset secara efisien tanpa memerlukan investasi besar, dengan potensi komersial yang kuat dan risiko yang relatif terkendali.
Sesuai studi kelayakan, Perseroan akan menerapkan skema pengelolaan dengan kontrol terbatas, di mana operasional berada di tangan penyewa, namun tetap diawasi melalui standar kompetensi tenaga kerja, penerapan SOP dan HSE, serta audit berkala. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga efisiensi sekaligus meminimalkan risiko operasional dan kerusakan aset.
Secara finansial, rencana ekspansi ini diproyeksikan memberikan dampak positif. Nilai Net Present Value (NPV) tercatat positif sebesar Rp553,12 miliar, sementara profitability index mencapai 44,67 kali, yang menunjukkan tingkat kelayakan investasi yang tinggi.
WSBP memperkirakan kontribusi pendapatan dari bisnis baru ini akan mencapai sekitar 3,46% terhadap total pendapatan Perseroan pada periode awal proyeksi.