Kemendag Diminta Lakukan Langkah Stabilisasi Harga untuk Tekan Inflasi
Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam/Iconomics
Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam mendesak Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil langlah untuk menekan laju inflasi nasional. Langkah itu terkait dengan tata kelola ketersediaan barang sehingga bisa menekan lonjakan harga agar tidak membebani masyarakat.
“Jangan sampai tak optimalnya pengelolaan kebijakan minyak goreng terulang kembali. Kami beberapa waktu lalu sudah mengingatkan. Ramadhan dan Lebaran 2022 ini menjadi ujian bagaimana pemerintah mengelola inflasi, sebab pada periode tahun lalu, situasi ekonomi berbeda dibanding 2022,” kata Mufti dalam keterangan resminya, Rabu (11/5).
Menurut Mufti, fluktuasi harga komoditas yang terjadi saat ini disebabkan lambannya Kemendag merespons setiap dinamika yang terjadi. Inflasi yang terjadi pada April 2021, misalnya, terbilang cukup rendah yakni 0,13%, dan inflasi pada Mei 2021 sebesar 0,32%.
Namun, memasuki periode 2022, inflasi tercatat mengalami kenaikan pada Maret 2022 yang tembus hingga 0,66%, dan kembali mengalami kenaikan pada April 2022 sebesar 0,95%.
Berdasarkan data itu, Mufti mendorong Kemendag untuk lebih aktif membangun sinergi antara pihak-pihak terkait. Kemendag perlu belajar dari kasus minyak goreng yang kebijakannya dinilai tidak berdampak signifikan untuk mengatasi permasalahan minyak goreng.
“Negara harus membangun komunikasi stakeholders dengan baik. Ketika ada gejolak harga, negara berhak memanggil pelaku usaha. Ketika gejolak harga, pemerintah lakukan stabilisasi termasuk dengan menerapkan kebijakan tertentu bagi pelaku usaha,” ujar Mufti.
Sebagai informasi, hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) di 90 kota, pada April 2022 terjadi inflasi sebesar 0,95% atau terjadi peningkatan indeks harga konsumen (IHK) dari 108,95 pada Maret 2022 menjadi 109,98 pada April 2022. Tingkat inflasi tahun kalender pada April 2022 tercatat sebesar 2,15% dan inflasi tahunan sebesar 3,47%. Sementara inflasi bulanan pada April 2022 itu menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017.
“Penyumbang inflasi utama pada April ini berasal dari komoditas minyak goreng, bensin, daging ayam ras, tarif angkutan udara serta ikan segar,” kata Kepala BPS, Margo Yuwono.