Mengapa Pariwisata Indonesia Perlu PR!
Ketua Umum BPP Perhumas Agung Laksamana/Ist
Kedua, Unique Selling Proposition (USP). Di sini, pemerintah daerah atau pemilik destinasi harus memiliki diferensiasi darispotwisata mereka. Promosi USP harus berjalan bukan ketika masa libur tiba, melainkan dari sekarang. Tujuannya agar destinasi Anda bisa menjadi top of mind dan masuk bucket lists travel! Singapura misalnya, memperkenalkan tagline “Experience Singapore now. Travel later” dan agresif berkampanye menghadirkan inovasi baru di sana. Badan Turisme Thailand (TAT) misalnya, mengampanyekan TVC “Miss you” yang cukup menarik.
Ketiga, Sustainability Tourism. UNWTO mendefinisikan keberlanjutan dalam pariwisata merujuk pada lingkungan, ekonomi, sosial budaya dari pengembangan pariwisata, dan keseimbangan menurut 3P, yaitu People, Planet, dan Prosperity. Jangan sampai gairah pariwisata justru menyingkirkan masyarakat, lingkungan, dan kemakmuran dari sebuah destinasi. Sektor pariwisata harus didesain bukan hanya untuk menarik para wisatawan, tapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat yang ada di dalamnya, tidak menghilangkan kultur yang ada, tidak berdampak buruk terhadap lingkungan, dan memberikan kemakmuran. Satu hal yang pasti, sektor pariwisata pasca pandemi akan menjadikan aspek health, safety, security, dan environment (HSSE) sebagai hal prioritas.
Keempat, Tourism Planning. Seiring berkembangnya industri pariwisata, semakin tinggi pula tuntutan wisatawan. Mulai dari fasilitas publik seperti toilet, jaringan internet, spot media sosial, akses, atraksi, dan masih banyak lagi. Pertanyaan yang perlu diajukan ke pemda atau pemilik destinasi wisata adalah bagaimana kesiapannya saat ini? Pete Blackshaw dari Nielsen Online menjelaskan bahwa satu pengalaman positif akan hanya di-share kepada tiga orang saja. Namun, bad experience akan di-share ke 3.000 orang. Jangan sampai keindahan sebuah destinasi hancur karena tidak adanya kesiapan dari pemerintah setempat atau pemilik destinasi. Inilah saatnya kita untuk berbenah.
Bagaimana menggabungkan keempat tren ini? Robert McKee, penulis buku Storynomics: Story-Driven Marketing in the Post Advertising World menjelaskan saat ini kita perlu menulis cerita yang kreatif, tidak cukup hanya berbasis data. Storynomic dalam turisme adalah cerita, konten narasi kreatif dengan destinasi budaya setempat yang memiliki nilai ekonomi hingga menjadi experience menarik bagi turis dan masyarakat.
Intinya, storynomic dan creative stories sell! Dan dititik inilah mengapa turisme Indonesia membutuhkan peran fungsi strategis PR! Bukan sebatas seremoni, namun PR yang strategis. Dari creative campaign hingga sosialisasi, dari amplifikasi hingga digitalisasi narasi, dari advokasi via influencershingga experience economy, dan yang lebih penting lagi, PR yang bisa menguantifikasi suksesnya sebuah kampanye.
Kita optimistis pariwisata Indonesia akan segera bangkit! Dan, sebagai Humas Indonesia, sudah waktunya kita men-PR-kan keindahan negeri sendiri. Indonesia adalah rumah kita! Kalau bukan kita, siapa lagi? #Indonesiabicarabaik.
Agung Laksamana
Penulis adalah Ketua Umum BPP Perhumas Indonesia.