Mengapa Pariwisata Indonesia Perlu PR!
Ketua Umum BPP Perhumas Agung Laksamana/Ist
Yang terjadi selanjutnya, tamu yang datang berkurang bahkan tidak aware adanya restoran ini. Mereka mulai komplain dari kualitas makanan yang turun hingga pelayan tidak sopan seperti sebelumnya. Positive word of mouth dari customer-pun hilang. Walhasil, penghasilannya turun drastis.
Anda tahu apa yang Jose katakan? “Kamu benar anakku! Memang ada krisis ekonomi besar yang sedang terjadi! Terima kasih telah memberikan saran ini. Jika bukan karena kamu, pasti kita akan bangkrut!”
Ironis? Krisis Ekonomi adalah hal yang nyata tetapi respons kita terhadap krisis idealnya tidak seperti itu.
Pandemi telah membuat aktivitas perekonomian dunia termasuk Indonesia jalan di tempat. Banyak sektor bisnis mati suri, salah satunya pariwisata. Padahal pada tahun 2019, sektor pariwisata berkontribusi 4,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Indonesia bukan satu-satunya negara di dunia yang harus rela industri pariwisatanya terimbas. Thailand, Vietnam, Filipina, Jepang, China, hingga negara-negara di Eropa juga merasakan hal yang sama. Menurut prediksi World Tourism Organization (UNWTO), industri pariwisata dunia kehilangan pendapatan sebanyak US$1,3 triliun pada tahun 2020.
Pertanyaan tentu muncul, kapan recovery akan terjadi? Dalam ilmu ekonomi ada yang menjelaskan bahwa recovery economy itu ada yang berbentuk U Shape Economy, L Shape, atau W Shape; kini muncul yang namanya K Shape Economy. Menurut teori ini, industri pasca pandemi akan bergerak sesuai huruf K –yang mana kakinya ke atas dan bawah. Kaki K ke atas menggambarkan kondisi sektor bisnis yang membaik seiring pulihnya ekonomi. Misalnya, sektor teknologi, retail e-commerce, layanan software, dan lainnya. Sedangkan kaki K ke bawah menggambarkan kondisi sektor bisnis yang butuh dukungan penuh, meski ekonomi perlahan membaik. Sektor itu antara lain pariwisata, hiburan, food services dan hospitality.
Di balik ancaman pasti ada peluang. Kita optimis dunia pariwisata akan bangkit! Mengapa? Jika mengacu pada teori hirarki Abraham Maslow bisa disebutkan bahwa motivasi untuk berwisata atau liburan sudah menjadi salah satu bagian dari basic needs, psychological needs hingga self-fulfillment needs dari manusia itu sendiri. Artinya demands itu pasti akan ada terus!
Presiden Jokowi mengatakan, pandemi justru menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pariwisata. “Menurut saya, penurunan (wisatawan) ini justru menjadi momentum kita untuk konsolidasi, momentum kita untuk transformasi di bidang pariwisata dan juga di bidang penerbangan melalui penataan yang lebih baik mengenai rute penerbangan,” katanya.
Sekalipun belum pulih, inilah momentum turisme Indonesia untuk berbenah, mempersiapkan, dan mengambil ancang-ancang menyambut dibukanya kembali sektor pariwisata ini.
Dari kacamata PR, optimisme ini terbuka lebar selama kita jeli melihat tren pasar industri ini, misalnya saja. Pertama, exponomy atau experience economy. Jika kita amati, masyarakat Jakarta sering bepergian tidak jauh dari kotanya. Sebut saja hiking di daerah Sentul, mencari air terjun di Puncak, atau wisata lain berbasis nature. Intinya liburan ke alam terbuka, sebagai upaya pencegahan pandemi, tidak meninggalkan arti sebuah pengalaman, namun dalam lokasi yang tidak terlalu jauh. Yang memiliki dana lebih, mereka akan berlibur ke lokasi wisata yang juga berbasis nature dari Bali, Danau Toba, Aceh, Mandalika hingga Labuan Bajo.