BRI Berkomitmen Dukung Petani, Eksportir dan Pedagang Kopi di Masa Covid-19

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
143

Gedung BRI/DocPlayer.info

PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk atau BRI memastikan komitmennya mendukung para petani, eksportir dan pedagang kopi di masa Covid-19. Pasalnya, 77% debitur BRI merupakan segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) termasuk petani, eksportir, dan pedagang kopi.

“Kalau dukungan pembiayaan, kita bicara dari sisi kredit atau loan. Ada beberapa kredit bisa kita berikan ke petani kopi maupun pedagang, maupun eksportir. Ini semua bisa dikasih fasilitas kredit,” kata Direktur Bisnis Kecil, Retail dan Menengah BRI Priyastomo di acara webinar secara virtual, Rabu (23/9).

Priyastomo mengatakan, salah satu fasilitas kredit yang bisa dimanfaatkan para petani kopi adalah kredit usaha rakyat (KUR) dengan suku bunga sebesar 6%. BRI disebut telah menyalurkan kredit KUR mencapai Rp 266 miliar kepada sub-sektor kopi.

 

Selama masa pandemi, kata Priyastomo, pemerintah akan memberikan subsidi tambahan terhadap bunga 6% tersebut untuk membantu cashflow para petani kopi yang saat ini mengalami kesulitan permodalan. Khusus untuk sektor pertanian, bentuk pinjaman dapat difasilitasi dan disesuaikan oleh bank agar sesuai dengan kultur atau skema bisnisnya.

Baca Juga :   Resmi, Direksi dan Komisaris BUMN Tidak Dapat THR

“Misalnya ada KUR untuk padi di desa-desa, petani diberikan KUR pada saat menanam padi dan bisa dibayar pada saat panen, jangka waktunya enam bulan, bisa dibayar lunas dalam tiga-empat bulan,” kata Priyastomo.

Selain itu, kata Priyastomo, bank juga ikut serta dalam membiayai program resi gudang. Resi gudang merupakan program dari pemerintah untuk menjaga kesinambungan produksi dan kesinambungan harga produk pertanian.

Dari program resi gudang ini, kata Priyastomo, para petani yang menyimpan hasil panennya di gudang dapat memperoleh juga fasilitas kredit resi gudang di mana jaminan berasal dari produk yang disimpan di resi gudang. Plafon maksimal kredit yang dapat diperoleh dari fasilitas ini sebesar Rp 75 juta per petani atau 70% dari nilai resi gudang.

Fasilitas ini, kata Priyastomo, dapat dimanfaatkan oleh petani, kelompok tani dan gabungan kelompok tani maupun koperasi. BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 40,6 miliar melalui kredit resi gudang.

“Suku bunga kredit resi gudang yang dibayar petani hanya 6%. Sedangkan 5,25% disubsidi oleh pemerintah. Ini juga sangat murah. Dan biaya profesi administrasi itu free, jangka waktunya bisa sampai 6 bulan,” kata Priyastomo.

Baca Juga :   BUMN Diminta Siap Hadapi New Normal, Telkom: Iterasi dan Inovasi Kuncinya

Untuk para eksportir, pedagang ataupun pemilik gerai kafe kopi, kata Priyastomo, BRI juga membantu memberikan fasilitas pembiayaan bagi mereka berupa investasi dan modal kerja. Plafon pinjaman untuk sektor usaha itu bisa hingga Rp 500 juta dan masih bisa menggunakan fasilitas KUR.

Dari sisi penyerapan, kata Priyastomo, BRI telah membangun program kluster petani untuk berbagai komoditas pangan, termasuk kopi, yang ditentukan berdasarkan lokasi daerah, kesamaan dari sisi produk dan dari sisi segmen pembiayaan. “Dengan segmen kluster ini, petani memiliki bargaining position lebih kuat ketimbang sebagai individu. Kalau kluster petani menjual sebagai kelompok akan lebih mudah ketimbang menjual sendiri-sendiri,”katanya.

 

 

 

 

 

Leave a reply