12 BUS Plus UUS BTN Mesti Merger Agar Bisa Sepadan dengan BSI

1
228

Merger PT Bank Muamalat Indonesia Tbk dan Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk sudah semakin terang.

BTN selaku pihak yang akan melakukan akuisisi sudah secara resmi menyampaikan minatnya untuk membeli saham bank syariah pertama di Indonesia itu dengan mengirimkan letter of intent (LOI) ke Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). BPKH yang merupakan lembaga Pemerintah Indonesia adalah pemegang saham mayoritas Bank Muamlat yaitu 82,66%.

Rencana penggabungan antara BTN Syariah dan Bank Muamalat Indonesia ini juga didukung oleh pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menteri BUMN Erick Thohir dalam keterangannya pada 19 Desember 2023 yang lalu mengatakan penggabungan BTN Syariah dan Bank Muamalat merupakan upaya untuk membuat iklim persaingan industri bank syariah di Indonesia menjadi lebih sehat.

Menurut Erick, penggabungan Bank Muamalat dengan BTN Syariah diharapkan bisa membawa alternatif bank syariah yang besar di Indonesia.

“Itu kalau nanti digabung, itu mungkin bisa masuk top 16. Siapa tahu masuk 10 besar. Karena financial sharia ini menjadi sesuatu yang menarik pada saat ini,” kata Erick.

Dukungan juga disampaikan oleh OJK. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan OJK mendukung aksi korporasi tersebut.

Baca Juga :   Bank Muamalat Fasilitasi Pembayaran Iuran BPJS Ketenagakerjaan Melalui Platform Digital

“Terkait dengan upaya pengembangan dan penguatan industri perbankan syariah, OJK senantiasa mendukung langkah konsolidasi yang akan dilakukan dalam rangka pengembangan perbankan syariah di Indonesia,” ujarnya.

Manajemen BTN dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada November 2023 lalu menjelaskan akuisisi bank syariah ini dilakukan sebagai salah satu opsi untuk spin off atau pemisahaan Unit Usaha Syariah (UUS).

 

Penguasaan Aset yang Timpang

Saat ini Indonesia memiliki 13 Bank Umum Syariah (BUS) dan 20 Unit Usaha Syariah (UUS). BUS merupakan bank syariah yang sudah berdiri sendiri, tidak lagi menempel pada induknya yang merupakan Bank Umum Konvensional (BUK). Sementara, UUS merupakan unit syariah dari bank umum konvensional.

Berdasarkan Statistik Perbankan Syariah yang diterbitkan OJK, per September 2023, total aset perbankan syariah di Indonesia mencapai sekitar Rp810 triliun, yang terdiri dari Rp550,92 triliun aset BUS dan Rp259,07 triliun aset UUS.

Sumber: Diolah dari laporan keuanganmasing-masing bank/Theiconomics.com

Nilai aset perbankan syariah tersebut masih berada di bawah jumlah aset Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA) dan Bank Negara Indonesia (BNI).

Baca Juga :   BSI Garap Potensi 8000 Anggota Polda Banten

Ketimpangan nilai aset masing-masing bank syariah, baik BUS maupun UUS juga cukup lebar. Saat ini, Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan bank syariah dengan aset terbesar yaitu Rp319,85 triliun atau 39,5% dari total aset perbankan syariah di Indonesia. Dengan jumlah aset tersebut, BSI – yang merupakan hasil merger tiga bank syariah milik bank BUMN – masuk dalam jajaran 10 bank dengan aset terbesar di Indonesia.

Sumber: Diolah dari laporan keuangan masing-masing bank/Theiconomics.com

Sementara itu, aset Bank Muamalat Indonesia yang merupakan Bank Umum Syariah (BUS) terbesar kedua setelah BSI, nilai asetnya “hanya” Rp66,2 triliun. Demikian juga aset CIMB Niaga Syariah yang merupkan UUS dengn aset terbesar, nilai asetnya juga “hanya” Rp61,46 triliun, juga jauh di bawah BSI.

 

Merger BTN Syariah dan Bank Muamalat Belum Sepadan dengan BSI

Merger seperti yang akan dilakukan BTN Syariah dan Bank Muamalat Indonesia boleh jadi merupakan satu upaya untuk mengurangi ketimpangan antar-bank syariah sendiri.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae pada Selasa, 14 November 2023  mengatakan memang “tidak sehat dalam suatu pasar syariah, ada bank (yang) gede banget”, sementara “yang lainnya terima kecil-kecil saja.”

Karena itulah, OJK mendorong bank syariah untuk melakukan konsolidasi. “Bahwa nanti kita ingin melihat 2 atau 3 bank syariah lain seukuran BSI,” ujar Dian, seperti dikutip dari Bisnis.

Baca Juga :   Bank Syariah Indonesia Pimpin Pembiayaan Sindikasi Proyek Preservasi Jalintim

Tetapi, upaya merger yang dilakukan BTN Syariah dan Bank Muamalat saat ini belum akan sepadan dengan BSI, dari sisi aset. Aset kedua bank ini, bila merger dilakukan, baru mencapai Rp114,61 triliun, atau belum mencapai separuh dari aset BSI per September 2023 yang mencapai Rp319,8 triliun.

Memang merger ini membuat posisi BTN Syariah hasil merger dengan Bank Muamalat akan masuk dalam jajaran bank dengan aset di atas Rp100 triliun, meski posisinya masih jauh dari BSI.

BSI baru memiliki kompetotor yang sepadan bila 12 BUS dari 13 BUS,  plus UUS BTN Syariah bergabung menjadi satu. Penggabungan aset 12 BUS yaitu Bank Muamalat Indonesia, BPD Riau Kepri Syariah, Bank Aceh Syariah, BTPN Syariah, Bank Panin Dubai Syariah, Tbk, Bank Mega Syariah, BPD NTB Syariah, BCA Syariah, Bank Jabar Banten Syariah, KB Bukopin Syariah, Bank Aladin Syariah, Tbk, Bank Victoria Syariah, plus UUS BTN Syariah, berjumlah Rp279,49 triliun.

Sumber: Diolah dari laporan keuangan masing-masing bank/Theiconomics.com

Penggabungan 20 UUS juga bisa menciptakan kompetitor yang sepadan dengan BSI. Total aset 20 UUS per September 2023 adalah Rp259,27 triliun. Jadi, idealnya di Indonesia cukup memiliki 3 bank syariah.

1 comment

Leave a reply

Iconomics