Ini Paparan BRI soal Restrukturisasi dan Penyaluran Modal Kerja Baru untuk UMKM

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
132

Adrinov Chaniago (kiri), Dirut BRI Sunarso (tengah), Menteri Keuangan Sri Mulyani/The Iconomics

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) sudah merestrukturisasi kredit kepada  2,8 juta debitur dengan total nilai baki debet Rp 179,17 triliun per 20 Juli 2020. Dari jumlah ini, kredit mikro, kredit usaha rakyat (KUR), retail dan konsumer merupakan porsi terbesar yang mendapat restrukturisasi.

“Sedangkan menengah dan korporasi hanya 134 nasabah,” kata Direktur Utama BRI Sunarso saat menghadiri acara webinar secara virtual pada Kamis (30/7).

Sunarso menuturkan, perincian restrukturisasi yang telah dilakukan BRI meliputi 1,36 juta debitur mikro dengan nilai kredit Rp 64 triliun, 1,37 juta debitur KUR senilai Rp 24,39 triliun, 99,5 ribu debitur retail senilai Rp 74 triliun, 41,5 ribu debitur konsumer senilai Rp 10,27 triliun dan 134 debitur menengah dan korporasi senilai Rp 6,46 triliun.

Sunarso juga mencatat hingga 29 Juli 2020, BRI telah merealisasi stimulus subsidi bunga terhadap 5,25 juta rekening dengan total baki debet Rp 752,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,45 juta merupakan debitur KUR dengan nilai kredit Rp 558,7 miliar. Sedangkan 781 ribu debitur lainnya merupakan debitur UMKM non-KUR dengan nilai kredit Rp 193,4 miliar.

Baca Juga :   Chatib Basri: Sektor Perbankan Potensi Alami Kredit Macet di 2021

“Di antara yang di restrukturisasi, ada bunga-bunga yang ditunda, dan kemudian ada bunga yang tidak dibayar, dan sebagian dari bunga dibayar oleh pemerintah. Artinya bahwa pemerintah bikin stimulus, tapi stimulus itu disalurkan seperti apa? Itu butuh sistem. Dan kemudian BRI memang karena sudah biasa main di segmen ini maka kita sudah siapkan sistemnya. Karena siap sistemnya maka stimulus cepat diakses dan cepat direalisasikan,” kata Sunarso.

Untuk menjalankan berbagai program stimulus yang telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk meringankan beban sektor riil dari dampak pandemi, maka perbankan tentu membutuhkan dukungan likuiditas. Karena itu, kata Sunarso, pemerintah telah menempatkan dana di perbankan milik negara (Himbara) sebesar Rp 30 triliun, khusus di BRI ada Rp 10 triliun.

“Ini semua butuh likuiditas karena kita menunda angsuran pokok maka kita butuh likuiditas. Maka kemudian sumber likuiditas kita terima itu yang Rp 10 triliun. Itu pun enggak kita gunakan untuk mengganti ini tapi untuk menyalurkan kredit baru,” kata Sunarso.

Baca Juga :   Pasca-Covid-19, PHRI Nilai Usaha Makanan Home Industry Jadi Kompetitor Restoran

Dengan dukungan likuiditas tersebut, kata Sunarso, BRI mampu menyalurkan kredit modal kerja kepada 586,6 ribu debitur UMKM senilai Rp 24,94 triliun per 30 Juli 2020. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 10,27 triliun telah disalurkan kepada 404,9 ribu debitur mikro KUR, lalu Rp 7,81 triliun disalurkan kepada 165,5 ribu debitur mikro non-KUR, dan Rp 6,86 triliun telah disalurkan kepada 13,1 ribu debitur kecil, retail, dan menengah.

“BRI sekarang menyiapkan untuk stimulus ini butuh people. People-nya kami sudah punya, 125 ribu karyawan kita punya. Tapi ada people tanpa sistem, enggak jalan. Ada people tapi tidak ada sistem yang meng-operate? Enggak jalan juga. Jadi kenapa dikasih Rp 10 triliun sudah kita salurkan Rp 24 triliun kepada ratusan ribu nasabah? Kuncinya ada data, ada sistem, dan ada people,” katanya.

Leave a reply