BUMN Manufaktur dan Farmasi Dapat Menjadi Motor Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Beri Catatan Penting

0
63

Pemerintah terus berupaya memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026, khususnya melalui penguatan sektor industri manufaktur dan farmasi sebagai motor penggerak utama perekonomian.

“Untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan lebih berkualitas. Target pertumbuhan 8% pada 2029 bukanlah sesuatu yang mustahil, kita pernah tumbuh di atas 7% di era 1990-an. Kuncinya adalah industrialisasi yang berkelanjutan, percepatan hilirisasi, serta penguatan BUMN terutama sektor manufaktur dan farmasi sebagai motor transformasi ekonomi nasional,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Ferry Irawan dalam keterangannya.

Industri manufaktur menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan motor penggerak utama PDB nasional dengan kontribusi sebesar 19,15%. Penguatan industri manufaktur, khususnya melalui pembangunan mobil nasional berbasis Electric Vehicle (EV), menjadi langkah krusial untuk mendorong reindustrialisasi.

Indonesia memiliki momentum tepat karena fondasi ekosistem EV, termasuk bahan baku baterai, baja otomotif, dan pasar domestik yang besar telah terbentuk. Inisiatif ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia memiliki mobil nasional sebagai simbol kemandirian teknologi dan pendorong pemerataan ekonomi melalui perluasan rantai pasok hingga ke daerah.

Baca Juga :   Nongsa D-Town Resmi Diluncurkan untuk Dorong Industri Digital

Ke depan, diperlukan roadmap mobil nasional yang jelas dan terukur, skema pembiayaan yang kuat, komitmen Pemerintah sebagai early adopter, serta strategi branding yang tepat berbasis keandalan dan teknologi pertahanan. Pengembangan ekosistem hulu–hilir yang terintegrasi, pelibatan IKM, serta antisipasi disrupsi teknologi global menjadi kunci agar mobil nasional memiliki daya saing berkelanjutan dan memberikan multiplier effect besar bagi ekonomi nasional.

Sektor industri farmasi juga menjadi elemen penting dalam ketahanan nasional. Kemandirian bahan baku obat (BBO) merupakan agenda strategis nasional yang tidak hanya menyangkut ketahanan sektor kesehatan, tetapi juga penguatan struktur ekonomi.

Peningkatan produksi BBO dalam negeri dinilai membawa dampak positif yang luas, mulai dari peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, hingga pengurangan ketergantungan impor.

Strategi pengembangan industri farmasi perlu dilakukan bertahap, dimulai dari perluasan penggunaan BBO lokal dan penjaminan pasar melalui pengadaan Pemerintah, serta pembangunan ekosistem hulu-hilir. Selain itu, kebijakan perdagangan dan NTMs perlu disesuaikan agar ketahanan tidak mengorbankan daya saing, dan menjadikan BUMN farmasi sebagai anchor industry. Pemerintah akan terus menjaga agar industri hilir tetap produktif dan masyarakat tetap mendapatkan obat yang terjangkau,

Baca Juga :   Menko Airlangga: Neraca Perdagangan Mei 2024 Alami Surplus, Surplus 49 Bulan Berturut-turut

Dalam kesempatan ini, Asisten Deputi Pengembangan BUMN Bidang Industri Manufaktur, Agro, Farmasi dan Kesehatan Muhamad Edy Yusuf juga menyampaikan bahwa untuk mewujudkan strategi pembangunan mobil nasional dan pengembangan industri BBO diperlukan roadmap yang terukur dan terarah serta sinergi berbagai pemangku kepentingan.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics