Awal Tahun, Inflasi Tahunan Tinggi, Meski Secara Bulanan Terjadi Deflasi

0
79

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 relatif tinggi, meskipun secara bulanan (month to month/mtm) terjadi deflasi. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh low base effect, khususnya pada komoditas tarif listrik.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan. Indeks Harga Konsumen (IHK) turun dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75.

Kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami deflasi sebesar 1,03 persen dengan andil deflasi 0,30 persen.

Komoditas utama pendorong deflasi pada kelompok ini antara lain cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, cabai rawit 0,08 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam ras 0,05 persen, serta telur ayam ras 0,03 persen. Selain itu, bensin dan tarif angkutan udara masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.

Ateng mengatakan pawal 2026, sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah memang sedang memasuki masa panen sehingga pasokannya meningkat. 

Baca Juga :   BPS: Tren Penurunan Ekspor Indonesia Berlanjut Karena Kelesuan Harga Komoditas

“Khusus untuk bawang merah, produksi Januari 2026 mengalami peningkatan yang didukung oleh panen raya di hampir seluruh sentra bawang merah, terutama di Brebes Raya dan juga di kawasan dataran tinggi,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/2).

Di sisi lain, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan inflasi bulanan, terutama emas perhiasan dengan andil inflasi 0,16 persen, disusul ikan segar dan tomat.

“Harga emas di pasar internasional, tren kenaikannya masih terus berlanjut sampai dengan awal Januari 2026,” jelasnya.

Ateng menjelaskan, secara komponen, deflasi Januari 2026 terutama berasal dari komponen harga bergejolak yang mengalami deflasi 1,96 persen dengan andil 0,33 persen. Komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami deflasi 0,32 persen, sementara komponen inti justru mencatat inflasi 0,37 persen.

Namun secara tahunan, inflasi Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen. IHK meningkat dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

“Inflasi yang tinggi di Januari 2026, secara year on year ini, dipengaruhi oleh adanya low base effect,” kata Ateng.

Baca Juga :   BPS: Impor Turun 22,32% di April 2023

Low base effect ini terjadi karena pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik. Menurutnya, kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025 menekan IHK pada periode tersebut sehingga level harga berada di bawah tren normal. Akibatnya, ketika dibandingkan dengan Januari 2026, inflasi tahunan tampak lebih tinggi.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami inflasi 11,93 persen dengan andil 1,73 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah tarif listrik.

Selain itu, emas perhiasan juga menjadi salah satu komoditas dengan andil inflasi tahunan yang signifikan. Secara komponen, inflasi tahunan tertinggi berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah sebesar 9,71 persen, disusul komponen inti 2,45 persen dan komponen harga bergejolak 1,14 persen.

Secara wilayah, seluruh provinsi mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi tertinggi tercatat di Aceh sebesar 6,69 persen, sementara inflasi terendah terjadi di Lampung sebesar 1,90 persen.

Leave a reply

Iconomics