Mau Pakai Strategi Dollar-Cost Averaging? Simak Dulu Sampai Tuntas!

0
50

Investasi aset kripto dikenal memiliki potensi keuntungan besar, tapi juga penuh dengan volatilitas harga yang sering membuat investor bingung menentukan waktu terbaik untuk membeli. Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) hadir sebagai solusi sederhana namun efektif untuk berinvestasi secara konsisten.

Menurut Pintu Academy, platform edukasi aplikasi PINTU, DCA adalah sebuah strategi investasi yang membantu mengurangi ketidakpastian soal kapan waktu terbaik untuk masuk pasar, karena kita cukup mengikuti jadwal investasi tetap yang sudah ditentukan. Strategi ini juga mendorong disiplin untuk berinvestasi secara rutin.

PINTU menyebut DCA merupakan strategi investasi yang sederhana namun efektif untuk mengumpulkan aset dalam jangka panjang. Intinya, strategi ini mendorong untuk berinvestasi secara rutin dan disiplin, yang sangat bermanfaat terutama saat pasar sedang berfluktuasi. Dalam jangka panjang, metode ini bisa membantu menurunkan biaya rata-rata per unit dibandingkan jika membeli sekaligus dalam jumlah besar pada satu waktu.

Bagaimana cara kerja DCA crypto? Mari kita buat skenario, jika harga Bitcoin saat ini US$50.000 dan kamu langsung membeli dengan sistem lump sum, maka kamu akan mendapatkan 1 BTC dengan harga dasar (cost basis) US$50.000. Jika dana US$50.000 tersebut dibagi menjadi lima kali dengan strategi DCA, misalnya di US$50.000/BTC, US$45.000/BTC, dan US$25.000/BTC. Maka rata-rata harga dasar pembelian bisa turun menjadi US$40.000 per BTC. Dari skenario ini, kamu akan mengumpulkan total 1,4 BTC.

Baca Juga :   Baru Setahun Beroperasi, Platform Jual Beli Kripto Gopax Indonesia Ditutup

Dengan berinvestasi jumlah yang sama secara konsisten, kita akan membeli lebih banyak unit saat harga murah dan lebih sedikit unit saat harga mahal. Dalam jangka panjang, strategi ini bisa membantu menurunkan rata-rata biaya pembelian per unit aset.

 

Tips Memilih Aset untuk DCA Crypto

Parameter penting dalam memilih kripto antara lain meliputi ketahanan, tren pasar dan metriks utama. Ketahanan (durability) dapat didefinisikan sejak kapan aset ini hadir di pasar? Karena DCA biasanya dilakukan dalam jangka panjang alias bertahun-tahun, kripto yang dipilih sebaiknya sudah terbukti memiliki rekam jejak dan bertahan lama.

Adapun tren pasar, adalah melihat sentimen pasar dan tren yang berkembang di media sosial, portal berita, dan komunitas kripto. Apakah orang-orang melihat proyek ini positif atau sebaliknya?

Tak kalah penting adalah metriks utama. Investor harus memerhatikan volume perdagangan, riwayat pergerakan harga, dan likuiditas. Faktor-faktor ini bisa membantu menilai potensi jangka panjang.

 

Risiko dan Keuntungan Strategi DCA

Meski terlihat sederhana dan efektif, strategi DCA crypto juga punya beberapa risiko yang perlu diperhatikan.

Pertama, DCA tidak melindungi dari pasar turun berkepanjangan. DCA crypto memang bisa membantu mengurangi risiko membeli di harga puncak, tapi tidak memberikan perlindungan penuh jika pasar jatuh terus-menerus. Nilai portofolio tetap bisa turun. Oleh karena itu, manajemen risiko tetap penting, misalnya dengan melakukan diversifikasi ke berbagai aset lain seperti saham, obligasi, atau properti.

Baca Juga :   Aset Kripto DOGE Naik Lebih dari 600% Selama Satu Minggu, Hati-Hati Fundamentalnya Tidak Kuat

Kedua, biaya kesempatan (opportunity cost). Dengan DCA crypto, investasi dibagi dalam jangka waktu tertentu. Artinya, kamu mungkin melewatkan keuntungan besar jika harga kripto langsung naik tajam setelah Anda mulai berinvestasi. Dibandingkan lump-sum investing (langsung menaruh modal besar sekaligus), hasil DCA bisa terasa kurang memuaskan bagi investor agresif yang mengejar keuntungan cepat.

Ketiga, sederhana dan mudah. DCA adalah salah satu strategi paling sederhana yang bisa digunakan siapa saja, baik pemula maupun berpengalaman. Tidak butuh analisis teknikal rumit, tidak perlu menebak timing pasar, dan bisa berjalan otomatis melalui program tabungan/investasi rutin.

Keempat, disiplin menabung. Strategi menambahkan dana secara rutin ke akun investasi membangun kebiasaan secara disiplin seperti menabung. Nilai portofolio akan terus bertambah, meskipun aset yang ada kadang sedang turun nilainya. Namun, jika penurunan pasar berlangsung lama, tentu ada risiko nilai portofolio ikut tertekan.

Kelima, mengelola emosi dalam investasi. Banyak investor terjebak dalam investasi emosional, misalnya karena takut rugi besar setelah membeli sekaligus. DCA membantu mengurangi faktor emosional ini. Dengan strategi beli rutin, investor bisa lebih fokus pada tujuan jangka panjang tanpa mudah terpengaruh berita atau hype jangka pendek dari media maupun pasar.

Baca Juga :   Menko Airlangga Ajak Crypto.com Bangun Infrastruktur Digital di Indonesia

 

DCA vs Investasi Lump Sum

Lump-sum investing atau investasi lump sum adalah strategi di mana seseorang menempatkan sejumlah besar modal ke dalam satu investasi sekaligus. Investor yang memilih strategi ini biasanya memiliki kapital yang cukup banyak. Di sisi lain, Dollar-Cost Averaging (DCA) umumnya menjadi strategi investasi yang lebih cocok bagi mereka yang belum memiliki modal besar. Strategi ini membantu “meratakan” harga beli, sehingga risiko membeli dalam jumlah besar saat harga sedang di puncak bisa dikurangi.

Kedua strategi, baik lump-sum investing dan DCA, memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Lump-sum investing bisa memberi peluang keuntungan besar jika harga crypto (atau aset lain) melonjak tajam setelah sempat turun. Namun, tantangan utamanya adalah menentukan titik terendah pasar, yang sulit diprediksi. Hal ini makin sulit di dunia crypto, karena harganya jauh lebih fluktuatif dibanding saham. Disisi lain, DCA memang tidak memberikan keuntungan instan sebesar lump-sum saat pasar naik cepat, tetapi strateginya lebih aman karena risiko “salah timing” bisa ditekan.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics