Harga Emas Turun, Jadi Penahan Inflasi Maret 2026

0
103

Penurunan harga emas global pada Maret 2026 turut menjadi salah satu faktor yang menahan laju inflasi di dalam negeri, di tengah tekanan kenaikan harga pangan dan mobilitas tinggi selama Ramadan dan Lebaran.

Badan statistik mencatat, inflasi pada Maret 2026 sebesar 0,41% secara bulanan (month-to-month/mtm), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat 3,48%, sementara secara tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 0,94%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi dinamika harga sepanjang Maret. Pertama, harga emas internasional mengalami penurunan dibandingkan Februari 2026. Kedua, harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mengalami kenaikan akibat penyesuaian oleh Pertamina. Ketiga, meningkatnya permintaan dan mobilitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri turut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas.

Di tengah tekanan tersebut, emas justru berperan sebagai penahan inflasi. Komoditas emas perhiasan tercatat mengalami deflasi sebesar 1,17% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,03%. Ini menjadi pembalikan tren setelah emas sebelumnya mengalami inflasi selama sekitar 30 bulan berturut-turut.

Baca Juga :   Tekan Inflasi, Badan Pangan Nasional Terbitkan Regulasi Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah

“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi salah satu kelompok utama penyumbang deflasi pada Maret tahun 2026, dengan tingkat deflasi sebesar 0,21% dan andil deflasinya sebesar 0,01%,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu, 1 April.

Emas merupakan salah satu komoditas dalam kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Secara keseluruhan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 1,07% dan andil 0,32%. Komoditas utama yang mendorong inflasi antara lain ikan segar dan daging ayam ras (masing-masing andil 0,06%), beras (0,03%), serta telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi (masing-masing 0,02%).

Selain itu, kenaikan harga BBM turut mendorong inflasi melalui komoditas bensin dengan andil 0,04%, serta tarif angkutan antarkota sebesar 0,03%.

Namun, berbagai kebijakan pemerintah selama periode Lebaran mampu meredam tekanan inflasi, terutama melalui diskon tarif transportasi. Tarif angkutan udara tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,03%. Penurunan harga juga terjadi pada tarif jalan tol, angkutan laut, penyeberangan, dan kereta api.

Baca Juga :   Harga Emas Batangan Naik Rp29.000 Mengawali Pekan Ini

“Deflasi pada kelompok transportasi terjadi seiring penerapan stimulus ekonomi berupa diskon tarif angkutan selama periode Lebaran,” jelasnya.

Berdasarkan komponen, inflasi Maret terutama didorong oleh kelompok harga bergejolak yang naik 1,58% dengan andil 0,27%. Sementara itu, inflasi komponen inti tercatat 0,13% (andil 0,08%), dan harga yang diatur pemerintah naik 0,31% (andil 0,06%).

Secara spasial, inflasi terjadi di 34 provinsi, dengan inflasi tertinggi di Papua Pegunungan sebesar 2,57%. Sementara itu, empat provinsi mengalami deflasi, dengan deflasi terdalam di Maluku sebesar 0,75%.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics